
+ 6221-3842828 ext. 0
rsbudikemuliaan@indo.net.id
Jl. Budi Kemuliaan No.25, RT.2/RW.4, Gambir, Jakarta Pusat
Promo
Berita
Langkah kecil hari ini, harapan besar untuk masa depan. Melalui kegiatan penyemaian sorgum, kita belajar bahwa setiap benih yang ditanam membutuhkan perhatian, kesabaran, dan proses untuk tumbuh menjadi sumber manfaat bagi banyak orang.
Sorgum dikenal sebagai tanaman yang kaya manfaat, bernilai gizi tinggi, dan memiliki daya tahan yang baik terhadap berbagai kondisi lingkungan. Semoga benih yang ditanam hari ini dapat tumbuh subur dan memberikan hasil terbaik.
Menanam hari ini, memanen manfaat di masa depan.
Pada tanggal 28 Mei 2026 telah dilaksanakan kegiatan pemotongan hewan kurban di lingkungan Lembaga Kesehatan Budi Kemuliaan.
Qurban tahun ini terdiri dari:
🐐 11 ekor kambing
🐑 2 ekor domba
🐄 2 ekor sapi
Para Sohibul Qurban berasal dari lingkungan Lembaga Kesehatan, serta 1 ekor kambing merupakan sumbangan dari BSI yang telah menjadi mitra Budi Kemuliaan.
Terima kasih kepada seluruh Sohibul qurban dan seluruh panitia, semoga menjadi amal jariyah dan berkah untuk kita semua. Aamiin.
Pada hari Minggu, 31 Mei 2026 Lembaga Kesehatan Budi Kemuliaan mengikuti kegiatan CFD (Car Free Day) dengan memberikan pelayanan Skrining Kesehatan "GRATIS" kepada masyarakat sePadaperti tekanan darah, Berat Badan, saturasi oksigen dan pengukuran BMI (Body Mass Index)✨
Kegiatan ini bertujuan untuk mendekatkan akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat, terutama pengunjung CFD.
Selalu jaga kesehatan mu dan jangan lupa kunjungi Stand Kesehatan RS Budi Kemuliaan di CFD (Care Free Day)
Informasi Kesehatan
Indonesia Masih Menghadapi Ancaman Demam Berdarah Dengue
Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus ini dapat menyerang semua kelompok usia, mulai dari bayi, anak-anak, hingga orang dewasa.
Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, hingga Mei 2026 tercatat 39.672 kasus DBD dengan 105 kematian di Indonesia. Provinsi Jawa Barat menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yaitu lebih dari 9.000 kasus disertai 36 kematian. Indonesia bahkan merupakan negara dengan jumlah kasus dengue terbesar kedua di dunia dan tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Indonesia menyumbang sekitar 3% kasus dengue dunia, namun menyumbang 17% angka kematian akibat dengue secara global.
Kondisi ini menunjukkan bahwa DBD bukanlah penyakit yang dapat dianggap sepele. Deteksi dini, penanganan yang tepat, serta pencegahan menjadi kunci utama untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit ini. Melalui layanan Poliklinik Penyakit Dalam, Poliklinik Anak, Instalasi Gawat Darurat (IGD), dan fasilitas rawat inap, RSU Budi Kemuliaan siap memberikan pelayanan diagnosis, penanganan, dan pemantauan pasien DBD secara komprehensif.
Apa Itu Demam Berdarah Dengue (DBD)?
Demam Berdarah Dengue adalah penyakit infeksi virus yang disebabkan oleh virus dengue, yang terdiri dari empat serotipe (DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4). Virus ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes yang aktif menggigit terutama pada pagi dan sore hari.
Seseorang dapat terinfeksi lebih dari satu kali karena infeksi oleh satu serotipe tidak memberikan kekebalan terhadap serotipe lainnya. Bahkan, infeksi berulang dapat meningkatkan risiko terjadinya DBD berat.
Bagaimana Penularan DBD Terjadi?
Penularan terjadi melalui siklus berikut:
Nyamuk Aedes menggigit orang yang sedang terinfeksi virus dengue.
Virus berkembang di dalam tubuh nyamuk selama beberapa hari.
Nyamuk kemudian menggigit orang lain dan menularkan virus melalui air liurnya.
DBD tidak menular secara langsung dari orang ke orang melalui sentuhan, batuk, bersin, atau berbagi makanan.
Gejala Demam Berdarah Dengue
Gejala biasanya muncul 4–10 hari setelah gigitan nyamuk yang terinfeksi.
Keluhan yang sering ditemukan antara lain:
Demam tinggi mendadak (≥38,5°C)
Sakit kepala hebat
Nyeri di belakang mata
Nyeri otot dan sendi
Mual dan muntah
Nafsu makan menurun
Tubuh terasa lemas
Ruam atau bintik kemerahan pada kulit
Pada sebagian pasien dapat muncul tanda perdarahan seperti:
Mimisan
Gusi berdarah
Bintik-bintik merah pada kulit (petekie)
Muntah darah atau BAB berwarna hitam pada kasus berat
Fase Perjalanan Penyakit DBD
1. Fase Demam
Berlangsung selama 2–7 hari.
Ditandai dengan:
Demam tinggi
Nyeri kepala
Nyeri otot
Mual
Tubuh lemas
Pada fase ini pemeriksaan laboratorium mungkin belum menunjukkan penurunan trombosit yang bermakna.
2. Fase Kritis
Biasanya terjadi ketika demam mulai turun (hari ke-3 hingga ke-7).
Inilah fase yang paling berbahaya karena dapat terjadi:
Kebocoran plasma
Syok dengue (Dengue Shock Syndrome)
Perdarahan berat
Gangguan fungsi organ
Banyak orang mengira kondisi pasien membaik karena demam sudah turun, padahal justru fase ini memerlukan pengawasan ketat.
3. Fase Pemulihan
Apabila berhasil melewati fase kritis, kondisi pasien akan berangsur membaik.
Nafsu makan meningkat, cairan tubuh kembali normal, dan trombosit mulai naik secara bertahap.
Tanda Bahaya DBD yang Harus Segera Dibawa ke Rumah Sakit
Segera ke IGD apabila penderita mengalami:
Nyeri perut hebat
Muntah terus-menerus
Perdarahan dari hidung atau gusi
Muntah darah atau BAB hitam
Sesak napas
Tangan dan kaki terasa dingin
Tampak sangat lemas atau mengantuk
Gelisah atau penurunan kesadaran
Buang air kecil berkurang
Kejang
Tanda-tanda tersebut dapat mengindikasikan DBD berat yang memerlukan penanganan segera.
Bagaimana Diagnosis DBD Ditegakkan?
Dokter akan melakukan:
Wawancara dan Pemeriksaan Fisik
Meliputi riwayat demam, gejala, serta pemeriksaan tanda-tanda perdarahan dan kebocoran plasma.
Pemeriksaan Laboratorium
Antara lain:
Hitung darah lengkap (trombosit dan hematokrit)
Antigen NS1 (pada fase awal penyakit)
Pemeriksaan antibodi IgM dan IgG dengue
Pemeriksaan lain sesuai kondisi pasien
Pemantauan trombosit dan hematokrit secara berkala sangat penting untuk menilai perjalanan penyakit.
Bagaimana Penanganan DBD?
Hingga saat ini belum ada obat antivirus khusus untuk membunuh virus dengue. Penanganan bertujuan menjaga kondisi tubuh sampai infeksi teratasi oleh sistem imun.
Terapi meliputi:
Pemberian cairan yang cukup (oral atau infus sesuai kondisi)
Obat penurun demam berbahan parasetamol
Istirahat yang cukup
Pemantauan trombosit, hematokrit, dan tanda vital
Rawat inap bila terdapat tanda bahaya atau DBD berat
Hindari penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) seperti ibuprofen, asam mefenamat, atau aspirin tanpa anjuran dokter karena dapat meningkatkan risiko perdarahan.
Benarkah Trombosit Rendah Selalu Berbahaya?
Penurunan trombosit memang sering terjadi pada DBD, tetapi angka trombosit bukan satu-satunya penentu tingkat keparahan penyakit.
Dokter juga akan menilai:
Kondisi klinis pasien
Tekanan darah
Tanda kebocoran plasma
Hematokrit
Produksi urine
Fungsi organ
Karena itu, pasien tidak dianjurkan hanya berfokus pada angka trombosit tanpa evaluasi medis menyeluruh.
Bagaimana Cara Mencegah DBD?
Pencegahan merupakan langkah paling efektif dalam mengendalikan DBD.
1. Gerakan 3M Plus
Menguras tempat penampungan air secara rutin.
Menutup rapat tempat penyimpanan air.
Memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Ditambah dengan langkah Plus, seperti:
Menggunakan kelambu atau kasa nyamuk.
Menggunakan losion antinyamuk bila diperlukan.
Menanam tanaman pengusir nyamuk.
Membersihkan lingkungan secara berkala.
Menghindari pakaian yang menggantung terlalu lama.
2. Pengendalian Vektor
Kementerian Kesehatan bersama berbagai pihak juga mengembangkan strategi pengendalian nyamuk, termasuk inovasi nyamuk ber-Wolbachia. Hasil penelitian di Yogyakarta menunjukkan pendekatan ini mampu menurunkan kejadian dengue hingga sekitar 70% pada wilayah intervensi.
3. Vaksinasi Dengue
Saat ini vaksin dengue telah tersedia di Indonesia dan dapat menjadi salah satu upaya pencegahan pada kelompok yang memenuhi indikasi sesuai rekomendasi dokter dan kebijakan kesehatan yang berlaku.
Vaksinasi tidak menggantikan pentingnya pengendalian lingkungan dan pemberantasan sarang nyamuk.
Peran RSU Budi Kemuliaan dalam Penanganan DBD
RSU Budi Kemuliaan memberikan pelayanan menyeluruh bagi pasien dengan dugaan maupun diagnosis DBD melalui:
✔ Konsultasi dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis anak
✔ Pemeriksaan laboratorium untuk diagnosis dengue
✔ Monitoring trombosit, hematokrit, dan kondisi klinis pasien
✔ Instalasi Gawat Darurat (IGD) 24 jam
✔ Rawat inap dengan pemantauan intensif sesuai indikasi
✔ Edukasi pencegahan DBD bagi pasien dan keluarga
Dengan penanganan yang cepat dan tepat, risiko komplikasi berat akibat DBD dapat ditekan.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Jangan menunggu hingga kondisi memburuk. Segera lakukan pemeriksaan apabila mengalami:
Demam tinggi mendadak lebih dari dua hari
Nyeri kepala hebat
Nyeri otot dan sendi
Ruam pada kulit
Riwayat tinggal di daerah dengan peningkatan kasus DBD
Tanda bahaya seperti muntah terus-menerus, perdarahan, atau penurunan kesadaran
Diagnosis dan tata laksana sejak dini dapat mencegah komplikasi yang mengancam nyawa.
Kesimpulan
Demam Berdarah Dengue masih menjadi tantangan besar di Indonesia dan memerlukan kewaspadaan dari seluruh masyarakat. Meskipun belum tersedia obat yang secara spesifik membunuh virus dengue, sebagian besar pasien dapat pulih dengan baik apabila mendapatkan diagnosis dini, terapi suportif yang tepat, serta pemantauan yang optimal.
Pencegahan melalui Gerakan 3M Plus, pengendalian nyamuk, menjaga kebersihan lingkungan, serta vaksinasi sesuai indikasi merupakan langkah penting untuk menekan angka kejadian DBD.
Apabila Anda atau anggota keluarga mengalami demam tinggi disertai gejala yang mengarah ke DBD, segera periksakan diri ke RSU Budi Kemuliaan. Penanganan yang cepat dapat menyelamatkan nyawa.
Sumber
1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Rencana Aksi Nasional Pengendalian Demam Dengue Tahun 2026–2029.
World Health Organization. Dengue and Severe Dengue.
WHO – Dengue and Severe Dengue
Centers for Disease Control and Prevention. About Dengue.
CDC – Dengue
World Mosquito Program. Wolbachia Method for Dengue Control.
World Mosquito Program
Simmons CP, Farrar JJ, Nguyen VV, Wills B. Dengue. New England Journal of Medicine. 2012;366:1423–1432.
World Health Organization. Comprehensive Guidelines for Prevention and Control of Dengue and Dengue Haemorrhagic Fever.
Jangan Dianggap Sepele, Hemoroid Dapat Mengganggu Kualitas Hidup
Hemoroid atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai wasir atau ambeien merupakan salah satu penyakit yang paling sering dialami oleh orang dewasa. Meskipun tidak selalu berbahaya, hemoroid dapat menyebabkan rasa tidak nyaman, nyeri, perdarahan saat buang air besar, hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Banyak penderita merasa malu untuk memeriksakan diri sehingga pengobatan sering kali terlambat. Padahal, apabila ditangani sejak dini, sebagian besar kasus hemoroid dapat diatasi tanpa operasi.
Di RSU Budi Kemuliaan, layanan Poliklinik Bedah Umum siap membantu diagnosis, pengobatan, hingga tindakan bedah apabila diperlukan, sehingga pasien dapat kembali beraktivitas dengan nyaman.
Apa Itu Hemoroid?
Hemoroid adalah pelebaran dan pembengkakan pembuluh darah vena di sekitar anus atau bagian bawah rektum yang dapat menyebabkan keluhan seperti nyeri, gatal, benjolan, maupun perdarahan saat buang air besar.
Sebenarnya, setiap orang memiliki bantalan pembuluh darah (hemorrhoidal cushions) yang berfungsi membantu proses menahan keluarnya feses dan gas. Masalah muncul ketika bantalan tersebut mengalami pembengkakan akibat peningkatan tekanan yang berlangsung terus-menerus.
Hemoroid bukan merupakan kanker dan tidak meningkatkan risiko kanker usus besar, tetapi gejalanya dapat menyerupai penyakit lain yang lebih serius sehingga tetap memerlukan pemeriksaan dokter.
Jenis-Jenis Hemoroid
1. Hemoroid Internal
Hemoroid internal berada di dalam rektum sehingga umumnya tidak tampak dari luar.
Gejala yang sering muncul:
Perdarahan merah segar saat BAB
Tidak terasa nyeri pada tahap awal
Benjolan dapat keluar saat mengejan pada stadium lanjut
Hemoroid internal dibagi menjadi beberapa derajat:
Derajat I
Tidak keluar dari anus
Umumnya hanya menyebabkan perdarahan
Derajat II
Keluar saat BAB tetapi dapat masuk kembali dengan sendirinya
Derajat III
Keluar saat BAB dan harus didorong kembali menggunakan tangan
Derajat IV
Keluar terus-menerus dan tidak dapat dimasukkan kembali
2. Hemoroid Eksternal
Hemoroid eksternal berada di bawah kulit sekitar anus.
Gejalanya meliputi:
Benjolan di sekitar anus
Nyeri terutama saat duduk
Gatal
Bengkak
Dapat terjadi bekuan darah (hemoroid trombosis) yang menimbulkan nyeri hebat secara mendadak.
Apa Penyebab Hemoroid?
Hemoroid terjadi akibat meningkatnya tekanan pada pembuluh darah di daerah anus.
Beberapa penyebab yang paling sering antara lain:
Sering mengejan saat BAB
Konstipasi (sembelit) kronis
Diare kronis
Duduk terlalu lama, terutama di toilet
Kurang konsumsi serat
Kurang minum air putih
Kehamilan
Obesitas
Mengangkat beban berat secara berulang
Pertambahan usia yang menyebabkan jaringan penyangga pembuluh darah melemah
Siapa yang Berisiko Mengalami Hemoroid?
Risiko hemoroid meningkat pada:
Orang dengan pola makan rendah serat
Pekerja yang duduk dalam waktu lama
Ibu hamil
Lansia
Penderita obesitas
Individu dengan riwayat konstipasi kronis
Orang yang memiliki riwayat keluarga dengan hemoroid
Gejala Hemoroid
Keluhan yang dapat muncul antara lain:
Perdarahan merah segar saat BAB
Benjolan di sekitar anus
Nyeri saat duduk
Rasa mengganjal setelah BAB
Gatal di sekitar anus
Keluar lendir
Sulit membersihkan area anus
Bengkak di sekitar anus
Pada hemoroid trombosis, nyeri dapat muncul secara tiba-tiba dan sangat hebat.
Apakah Semua Perdarahan Saat BAB Disebabkan Hemoroid?
Tidak.
Perdarahan saat BAB juga dapat disebabkan oleh:
Fisura ani (robekan pada anus)
Polip usus
Penyakit radang usus
Divertikular
Kanker kolorektal
Karena itu, setiap perdarahan saat BAB sebaiknya diperiksa oleh dokter, terutama bila disertai:
Penurunan berat badan
Anemia
Perubahan pola BAB
Riwayat kanker usus dalam keluarga
Usia di atas 45 tahun
Bagaimana Diagnosis Hemoroid?
Dokter akan melakukan:
Wawancara Medis
Meliputi:
Riwayat perdarahan
Frekuensi BAB
Pola makan
Riwayat penyakit
Pemeriksaan Fisik
Termasuk pemeriksaan daerah anus.
Pemeriksaan Penunjang
Bila diperlukan dapat dilakukan:
Anoskopi
Rektoskopi
Sigmoidoskopi
Kolonoskopi (untuk menyingkirkan penyebab perdarahan lain terutama pada pasien dengan faktor risiko tertentu)
Bagaimana Pengobatan Hemoroid?
Penanganan disesuaikan dengan derajat dan tingkat keparahan penyakit.
1. Perubahan Gaya Hidup
Merupakan terapi utama terutama pada hemoroid ringan.
Meliputi:
Meningkatkan konsumsi serat
Minum air putih minimal 2 liter per hari (disesuaikan kondisi kesehatan)
Tidak mengejan terlalu kuat
Tidak menunda BAB
Rutin berolahraga
Menghindari duduk terlalu lama di toilet
2. Pengobatan
Dokter dapat memberikan:
Salep atau krim hemoroid
Obat antiinflamasi sesuai indikasi
Pelunak feses
Obat pereda nyeri bila diperlukan
Pengobatan harus digunakan sesuai anjuran dokter.
3. Tindakan Non Operasi
Pada kondisi tertentu dokter dapat melakukan:
Rubber Band Ligation (RBL)
Skleroterapi
Koagulasi inframerah (Infrared Coagulation)
Tindakan ini dilakukan terutama pada hemoroid internal dengan derajat tertentu.
4. Operasi Hemoroid (Hemoroidektomi)
Operasi dipertimbangkan bila:
Hemoroid derajat III–IV
Perdarahan berulang
Nyeri berat
Hemoroid trombosis berulang
Terapi konservatif tidak memberikan perbaikan
Saat ini tersedia berbagai teknik operasi yang bertujuan mengurangi nyeri pascaoperasi dan mempercepat pemulihan sesuai kondisi pasien.
Bagaimana Cara Mencegah Hemoroid?
Langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:
✔ Konsumsi makanan tinggi serat (sayur, buah, kacang-kacangan, biji-bijian)
✔ Minum air putih yang cukup
✔ Jangan menunda BAB
✔ Hindari mengejan terlalu kuat
✔ Berolahraga secara rutin
✔ Jaga berat badan ideal
✔ Hindari duduk terlalu lama
✔ Jangan terlalu lama bermain ponsel saat di toilet
Mitos dan Fakta Seputar Hemoroid
Mitos: Hemoroid hanya dialami orang tua.
Fakta: Hemoroid dapat terjadi pada semua usia, terutama pada individu dengan konstipasi kronis, ibu hamil, atau pekerja yang sering duduk lama.
Mitos: Semua hemoroid harus dioperasi.
Fakta: Sebagian besar hemoroid ringan dapat membaik dengan perubahan pola hidup, konsumsi serat, dan pengobatan yang tepat.
Mitos: Duduk di lantai dingin menyebabkan ambeien.
Fakta: Tidak ada bukti ilmiah bahwa duduk di lantai dingin menyebabkan hemoroid. Penyebab utamanya adalah peningkatan tekanan pada pembuluh darah anus.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Segera berkonsultasi apabila mengalami:
Perdarahan saat BAB yang berulang
Benjolan yang semakin besar
Nyeri hebat
Keluar darah dalam jumlah banyak
BAB berwarna hitam
Berat badan turun tanpa sebab
Keluhan tidak membaik meskipun telah mengubah pola makan
Pemeriksaan dini membantu memastikan penyebab perdarahan dan menentukan terapi yang tepat.
Layanan Bedah Umum RSU Budi Kemuliaan
RSU Budi Kemuliaan menyediakan pelayanan diagnosis dan penanganan hemoroid secara menyeluruh melalui Poliklinik Bedah Umum.
Layanan meliputi:
✔ Konsultasi Dokter Spesialis Bedah
✔ Pemeriksaan hemoroid dan penyakit anorektal
✔ Pengobatan konservatif
✔ Tindakan non-operatif sesuai indikasi
✔ Operasi hemoroid dengan teknik yang disesuaikan kondisi pasien
✔ Edukasi pola hidup sehat untuk mencegah kekambuhan
Dengan dukungan tenaga medis yang profesional dan fasilitas yang memadai, RSU Budi Kemuliaan berkomitmen memberikan pelayanan terbaik bagi setiap pasien.
Kesimpulan
Hemoroid merupakan pembengkakan pembuluh darah di sekitar anus yang dapat menyebabkan perdarahan, benjolan, nyeri, dan rasa tidak nyaman saat buang air besar. Meskipun sering dianggap sepele, hemoroid dapat mengganggu kualitas hidup apabila tidak ditangani dengan baik.
Sebagian besar kasus dapat diatasi melalui perubahan gaya hidup, pola makan tinggi serat, serta pengobatan yang tepat. Namun, pada kondisi tertentu diperlukan tindakan medis atau operasi.
Apabila Anda mengalami perdarahan saat BAB atau keluhan di sekitar anus, jangan menunda untuk berkonsultasi. Penanganan yang tepat sejak dini dapat mencegah komplikasi dan mempercepat pemulihan.
Sumber
Hawkins, A. T., Lightner, A. L., Paquette, I. M., et al (2024). The American Society of Colon and Rectal Surgeons Clinical Practice Guidelines for the Management of Hemorrhoids. Diseases of the Colon & Rectum, 67(5), 614–623. https://doi.org/10.1097/DCR.0000000000003276
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pelayanan Bedah dan Edukasi Penyakit Saluran Cer
Stunting: Bukan Sekadar Tubuh Pendek, tetapi Ancaman bagi Masa Depan Anak
Cegah Stunting Sejak Dini untuk Mewujudkan Generasi Sehat dan Berkualitas
Stunting masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Banyak orang mengira stunting hanya ditandai dengan tubuh anak yang lebih pendek dibandingkan teman sebayanya. Padahal, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis yang dapat memengaruhi perkembangan otak, kemampuan belajar, daya tahan tubuh, hingga produktivitas saat dewasa.
Kabar baiknya, stunting dapat dicegah melalui pemenuhan gizi yang baik, pemeriksaan kesehatan secara rutin, imunisasi lengkap, serta pendampingan tumbuh kembang sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Apa Itu Stunting?
Menurut World Health Organization (WHO), stunting adalah gangguan pertumbuhan pada anak akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan kurangnya stimulasi yang berlangsung dalam waktu lama, sehingga tinggi badan anak berada di bawah standar usianya (Height-for-Age Z-score kurang dari -2 SD berdasarkan Standar Pertumbuhan Anak WHO).
Stunting bukanlah penyakit menular, melainkan kondisi yang berkembang secara perlahan sejak masa kehamilan hingga awal kehidupan anak.
Seribu Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK)—mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia 2 tahun—merupakan periode paling penting dalam pencegahan stunting.
Mengapa Stunting Menjadi Masalah Serius?
Dampak stunting tidak hanya terlihat pada tinggi badan anak, tetapi juga dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan.
Anak yang mengalami stunting berisiko mengalami:
Perkembangan otak yang kurang optimal
Keterlambatan perkembangan motorik dan bahasa
Kesulitan belajar dan menurunnya prestasi akademik
Sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah
Lebih mudah mengalami infeksi
Risiko lebih tinggi terkena penyakit tidak menular saat dewasa, seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung
Produktivitas kerja yang lebih rendah ketika dewasa
Karena dampaknya dapat berlangsung seumur hidup, pencegahan stunting harus dimulai sedini mungkin.
Apa Penyebab Stunting?
Stunting tidak disebabkan oleh satu faktor saja, melainkan kombinasi berbagai kondisi.
Beberapa penyebab yang paling sering meliputi:
1. Kekurangan Gizi Kronis
Asupan energi, protein, vitamin, dan mineral yang tidak mencukupi dalam waktu lama dapat menghambat pertumbuhan anak.
2. Gizi Ibu yang Kurang Selama Kehamilan
Kesehatan janin sangat dipengaruhi oleh kondisi ibu.
Ibu hamil yang mengalami anemia, kekurangan energi kronis, atau tidak memperoleh nutrisi yang cukup memiliki risiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), yang merupakan salah satu faktor risiko stunting.
3. Bayi Tidak Mendapatkan ASI Eksklusif
WHO merekomendasikan:
ASI eksklusif selama 6 bulan pertama
Dilanjutkan hingga usia 2 tahun dengan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang bergizi
ASI merupakan sumber nutrisi terbaik untuk mendukung pertumbuhan optimal bayi.
4. MPASI yang Tidak Adekuat
Setelah usia 6 bulan, bayi memerlukan MPASI yang memenuhi kebutuhan:
Protein hewani
Karbohidrat
Lemak sehat
Sayur dan buah
Vitamin dan mineral
MPASI yang tidak mencukupi dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan.
5. Infeksi Berulang
Anak yang sering mengalami:
Diare
Pneumonia
Campak
Infeksi cacing
lebih berisiko mengalami gangguan pertumbuhan karena nutrisi tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.
6. Sanitasi dan Kebersihan Lingkungan yang Buruk
Akses terhadap air bersih, sanitasi yang layak, serta kebiasaan mencuci tangan berperan besar dalam mencegah penyakit infeksi yang berhubungan dengan stunting.
Tanda-Tanda Anak Mengalami Stunting
Stunting tidak selalu mudah dikenali hanya dengan melihat tinggi badan anak.
Beberapa tanda yang dapat ditemukan antara lain:
Tinggi badan lebih pendek dibandingkan anak seusianya
Pertambahan tinggi badan lambat
Berat badan sulit meningkat
Perkembangan motorik terlambat
Kemampuan berbicara lebih lambat
Anak tampak kurang aktif
Mudah sakit
Diagnosis stunting harus dilakukan melalui pengukuran tinggi badan dan interpretasi menggunakan kurva pertumbuhan WHO oleh tenaga kesehatan.
Faktor Risiko Terjadinya Stunting
Beberapa kondisi yang meningkatkan risiko stunting antara lain:
Kehamilan pada usia terlalu muda
Jarak kehamilan yang terlalu dekat
Berat badan lahir rendah (BBLR)
Bayi lahir prematur
Tidak mendapatkan ASI eksklusif
MPASI kurang berkualitas
Imunisasi tidak lengkap
Sanitasi yang buruk
Kondisi sosial ekonomi yang rendah
Kurangnya pengetahuan mengenai gizi
Bagaimana Cara Mencegah Stunting?
Pencegahan stunting dimulai bahkan sebelum kehamilan.
Sebelum dan Selama Kehamilan
Menjaga status gizi ibu
Mengonsumsi makanan bergizi seimbang
Minum tablet tambah darah sesuai anjuran
Melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) secara rutin
Mengendalikan penyakit kronis
Menghindari rokok dan alkohol
Setelah Bayi Lahir
Berikan ASI Eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan.
Berikan MPASI Bergizi
Mulai usia 6 bulan dengan memperhatikan:
Protein hewani (ikan, ayam, telur, daging)
Sayuran
Buah
Karbohidrat
Lemak sehat
Protein hewani merupakan salah satu komponen penting dalam mendukung pertumbuhan linear anak.
Lengkapi Imunisasi
Imunisasi membantu mencegah penyakit infeksi yang dapat menghambat pertumbuhan.
Pantau Pertumbuhan Anak
Lakukan pengukuran:
Berat badan
Panjang/tinggi badan
Lingkar kepala
secara rutin di Posyandu atau fasilitas kesehatan.
Terapkan Pola Hidup Bersih
Cuci tangan memakai sabun
Gunakan air bersih
Jaga sanitasi rumah
Buang sampah dengan benar
Benarkah Anak Pendek Pasti Stunting?
Belum tentu. Ada anak yang bertubuh pendek karena faktor genetik, tetapi tetap memiliki pertumbuhan yang normal.
Sebaliknya, stunting merupakan gangguan pertumbuhan kronis yang ditegakkan berdasarkan pengukuran antropometri menggunakan standar WHO. Karena itu, evaluasi oleh tenaga kesehatan sangat diperlukan sebelum menyimpulkan seorang anak mengalami stunting.
Peran Orang Tua dalam Mencegah Stunting
Orang tua memiliki peran yang sangat besar melalui:
✔ Memenuhi kebutuhan gizi anak
✔ Memberikan ASI eksklusif
✔ Menyediakan MPASI bergizi
✔ Melengkapi imunisasi
✔ Membawa anak ke Posyandu atau dokter secara rutin
✔ Memberikan stimulasi bermain dan belajar sesuai usia
✔ Menjaga kebersihan lingkungan
Layanan Tumbuh Kembang Anak di RSU Budi Kemuliaan
Sebagai rumah sakit yang memiliki keunggulan dalam pelayanan ibu dan anak, RSU Budi Kemuliaan menyediakan layanan komprehensif untuk mendukung tumbuh kembang optimal anak.
Layanan meliputi:
✔ Konsultasi Dokter Spesialis Anak
✔ Pemantauan tumbuh kembang bayi dan balita
✔ Pemeriksaan status gizi
✔ Konseling pemberian ASI dan MPASI
✔ Imunisasi lengkap sesuai rekomendasi nasional
✔ Edukasi pencegahan stunting bagi orang tua
✔ Konsultasi kesehatan ibu hamil melalui Poliklinik Obstetri dan Ginekologi
Dengan pendekatan yang menyeluruh, RSU Budi Kemuliaan mendukung keluarga dalam menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas.
Kapan Orang Tua Harus Berkonsultasi ke Dokter?
Segera konsultasikan ke dokter apabila:
Berat badan anak sulit naik
Tinggi badan tampak jauh lebih rendah dibandingkan teman seusianya
Anak sulit makan dalam waktu lama
Sering mengalami diare atau infeksi
Perkembangan motorik atau bicara terlambat
Orang tua memiliki kekhawatiran terhadap pertumbuhan anak
Semakin dini masalah pertumbuhan dikenali, semakin besar peluang keberhasilan intervensi.
Kesimpulan
Stunting merupakan gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis yang berdampak tidak hanya pada tinggi badan, tetapi juga perkembangan otak, kesehatan, dan kualitas hidup anak di masa depan.
Pencegahan stunting dimulai sejak sebelum kehamilan, dilanjutkan dengan pemeriksaan kehamilan yang rutin, pemberian ASI eksklusif, MPASI bergizi, imunisasi lengkap, serta pemantauan tumbuh kembang secara berkala.
Melalui pelayanan Poliklinik Anak, RSU Budi Kemuliaan siap mendampingi keluarga dalam memastikan setiap anak tumbuh sehat, optimal, dan mencapai potensi terbaiknya.
Sumber:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Percepatan Penurunan Stunting dan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).
World Health Organization. Guideline: Complementary Feeding of Infants and Young Children (2023).
Reviews
Semua Reviews