
+ 6221-3842828 ext. 0
rsbudikemuliaan@indo.net.id
Jl. Budi Kemuliaan No.25, RT.2/RW.4, Gambir, Jakarta Pusat
Promo
Berita
Langkah kecil hari ini, harapan besar untuk masa depan. Melalui kegiatan penyemaian sorgum, kita belajar bahwa setiap benih yang ditanam membutuhkan perhatian, kesabaran, dan proses untuk tumbuh menjadi sumber manfaat bagi banyak orang.
Sorgum dikenal sebagai tanaman yang kaya manfaat, bernilai gizi tinggi, dan memiliki daya tahan yang baik terhadap berbagai kondisi lingkungan. Semoga benih yang ditanam hari ini dapat tumbuh subur dan memberikan hasil terbaik.
Menanam hari ini, memanen manfaat di masa depan.
Pada tanggal 28 Mei 2026 telah dilaksanakan kegiatan pemotongan hewan kurban di lingkungan Lembaga Kesehatan Budi Kemuliaan.
Qurban tahun ini terdiri dari:
🐐 11 ekor kambing
🐑 2 ekor domba
🐄 2 ekor sapi
Para Sohibul Qurban berasal dari lingkungan Lembaga Kesehatan, serta 1 ekor kambing merupakan sumbangan dari BSI yang telah menjadi mitra Budi Kemuliaan.
Terima kasih kepada seluruh Sohibul qurban dan seluruh panitia, semoga menjadi amal jariyah dan berkah untuk kita semua. Aamiin.
Pada hari Minggu, 31 Mei 2026 Lembaga Kesehatan Budi Kemuliaan mengikuti kegiatan CFD (Car Free Day) dengan memberikan pelayanan Skrining Kesehatan "GRATIS" kepada masyarakat sePadaperti tekanan darah, Berat Badan, saturasi oksigen dan pengukuran BMI (Body Mass Index)✨
Kegiatan ini bertujuan untuk mendekatkan akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat, terutama pengunjung CFD.
Selalu jaga kesehatan mu dan jangan lupa kunjungi Stand Kesehatan RS Budi Kemuliaan di CFD (Care Free Day)
Informasi Kesehatan
Osteoarthritis (OA): Kenali Penyebab, Gejala, dan Cara Menjaga Sendi Tetap Aktif Nyeri Sendi Bukan Sekadar Faktor Usia
Pernah merasakan lutut nyeri saat naik tangga, berdiri dari posisi duduk, atau berjalan cukup lama? Jangan langsung menganggapnya sebagai hal yang wajar karena bertambahnya usia.
Keluhan tersebut dapat menjadi salah satu tanda osteoarthritis (OA) atau yang sering dikenal masyarakat sebagai pengapuran sendi.
Osteoarthritis merupakan penyakit sendi yang dapat menyebabkan nyeri, kaku, pembengkakan, serta keterbatasan gerak. Kondisi ini paling sering mengenai lutut, panggul, tangan, kaki, dan tulang belakang. Osteoarthritis bukan sekadar "tulang aus", tetapi merupakan penyakit yang melibatkan seluruh struktur sendi, termasuk tulang rawan, tulang, jaringan di sekitar sendi, serta otot.
Menurut World Health Organization (WHO), pada tahun 2019 sekitar 528 juta orang di seluruh dunia hidup dengan osteoarthritis, dan sekitar 60% di antaranya adalah perempuan. Lutut merupakan sendi yang paling sering terkena.
Kabar baiknya, osteoarthritis dapat dikelola. Dengan diagnosis yang tepat, olahraga terapeutik, pengelolaan berat badan bila diperlukan, pengobatan, serta rehabilitasi sesuai kondisi, penderita OA dapat tetap aktif dan mempertahankan kualitas hidup.
Apa Itu Osteoarthritis?
Osteoarthritis adalah penyakit sendi kronis yang menyebabkan perubahan pada struktur dan fungsi sendi secara bertahap.
Pada osteoarthritis, terjadi perubahan pada berbagai bagian sendi, termasuk tulang rawan yang melapisi permukaan tulang, tulang di bawah tulang rawan, membran sinovial, ligamen, serta otot di sekitar sendi.
Akibatnya, penderita dapat mengalami:
• Nyeri saat bergerak
• Kekakuan sendi
• Pembengkakan
• Gerakan sendi menjadi terbatas
• Kekuatan otot menurun
• Kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari
Osteoarthritis dapat berlangsung dalam jangka panjang dan gejalanya dapat naik turun. Tidak semua penderita akan mengalami kondisi yang semakin berat secara terus-menerus.
Apakah Osteoarthritis Sama dengan "Pengapuran Tulang"?
Istilah "pengapuran" sering digunakan untuk menggambarkan osteoarthritis, tetapi secara medis OA bukan sekadar masalah tulang yang mengalami pengapuran.
Osteoarthritis merupakan kondisi yang melibatkan seluruh sendi.
Karena itu, penanganannya tidak hanya berfokus pada tulang, tetapi juga pada:
• Pengendalian nyeri
• Peningkatan kekuatan otot
• Mempertahankan pergerakan sendi
• Pengelolaan berat badan
• Perbaikan fungsi tubuh
• Pencegahan keterbatasan aktivitas
Bagian Tubuh yang Sering Mengalami Osteoarthritis
Osteoarthritis dapat mengenai berbagai sendi, tetapi paling sering ditemukan pada:
1. Lutut
Merupakan salah satu lokasi OA yang paling sering terjadi.
Keluhan dapat berupa:
• Nyeri saat berjalan
• Nyeri saat naik atau turun tangga
• Nyeri ketika berdiri dari kursi
• Lutut terasa kaku
• Bunyi atau sensasi berderak pada sendi
• Kesulitan berjalan pada kondisi yang lebih berat
2. Panggul
Dapat menyebabkan nyeri di:
• Panggul
• Selangkangan
• Paha
• Bokong
Gerakan seperti berjalan atau menaiki tangga dapat menjadi lebih sulit.
3. Tangan
Dapat menyebabkan:
• Nyeri pada jari
• Kaku
• Pembengkakan
• Benjolan pada sendi jari
• Kesulitan menggenggam atau melakukan aktivitas yang membutuhkan gerakan tangan.
4. Kaki dan Tulang Belakang
OA juga dapat mengenai sendi kaki maupun struktur tulang belakang dan menyebabkan nyeri serta keterbatasan gerak.
Gejala Osteoarthritis
Gejala OA dapat berkembang perlahan.
Beberapa keluhan yang paling sering dirasakan adalah:
Nyeri Sendi
Nyeri biasanya berkaitan dengan aktivitas atau penggunaan sendi dan dapat berkurang ketika beristirahat.
Kekakuan
Sendi terasa kaku terutama setelah lama tidak bergerak.
Pembengkakan
Sendi dapat tampak atau terasa membengkak.
Gerakan Terbatas
Penderita mungkin mulai kesulitan melakukan gerakan tertentu, seperti menekuk lutut atau menggenggam benda.
Bunyi pada Sendi
Dapat muncul sensasi atau suara berderak ketika sendi digerakkan.
Penurunan Kekuatan Otot
Kurangnya aktivitas akibat nyeri dapat menyebabkan otot di sekitar sendi menjadi lebih lemah.
Pada OA yang berat, nyeri dapat terjadi bahkan ketika sedang beristirahat dan aktivitas sehari-hari dapat semakin terbatas.
Apa Penyebab Osteoarthritis?
Osteoarthritis tidak disebabkan oleh satu faktor saja.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko meliputi:
1. Usia
Risiko osteoarthritis meningkat seiring bertambahnya usia, meskipun OA bukan bagian yang pasti dari proses penuaan.
2. Berat Badan Berlebih
Berat badan berlebih dapat meningkatkan beban mekanis pada sendi, terutama lutut dan panggul.
Selain beban mekanis, obesitas juga berkaitan dengan perubahan metabolik dan proses inflamasi yang dapat berkontribusi terhadap OA.
3. Cedera Sendi
Riwayat cedera, seperti cedera olahraga atau kecelakaan, dapat meningkatkan risiko OA di kemudian hari.
4. Aktivitas Berulang
Aktivitas pekerjaan atau olahraga tertentu yang memberikan beban berulang pada sendi dapat meningkatkan risiko.
5. Faktor Genetik
Riwayat keluarga tertentu dapat berperan dalam risiko seseorang mengalami OA.
6. Penyakit Sendi Sebelumnya
Penyakit sendi lain, seperti gout atau rheumatoid arthritis, juga dapat meningkatkan risiko perubahan degeneratif pada sendi.
Siapa yang Berisiko Mengalami Osteoarthritis?
Beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi, antara lain:
• Orang berusia 45 tahun ke atas
• Individu dengan berat badan berlebih atau obesitas
• Orang dengan riwayat cedera sendi
• Pekerja dengan aktivitas yang memberikan beban berulang pada sendi
• Atlet dengan riwayat cedera sendi tertentu
• Orang dengan riwayat penyakit sendi
• Individu dengan faktor genetik tertentu
OA juga lebih sering ditemukan pada perempuan.
Bagaimana Osteoarthritis Didiagnosis?
Diagnosis osteoarthritis umumnya dapat dilakukan melalui wawancara medis dan pemeriksaan fisik.
Dokter akan menilai:
• Lokasi nyeri
• Hubungan nyeri dengan aktivitas
• Kekakuan sendi
• Rentang gerak
• Pembengkakan
• Kondisi otot dan fungsi sendi
• Riwayat cedera atau penyakit sebelumnya
Menurut NICE, pada orang berusia 45 tahun atau lebih dengan nyeri sendi yang berhubungan dengan aktivitas dan kekakuan pagi hari tidak ada atau berlangsung tidak lebih dari 30 menit, osteoarthritis dapat didiagnosis secara klinis tanpa pemeriksaan pencitraan rutin.
Apakah Harus Rontgen?
Tidak selalu.
Pemeriksaan X-ray atau pencitraan lain dapat dipertimbangkan apabila gejala tidak khas atau dokter mencurigai adanya kondisi lain.
Dengan kata lain, hasil rontgen tidak selalu menentukan seberapa berat keluhan yang dirasakan pasien. Penanganan harus mempertimbangkan gejala dan fungsi pasien secara keseluruhan.
Bagaimana Cara Mengatasi Osteoarthritis?
Tujuan utama pengobatan OA adalah:
Mengurangi nyeri, mempertahankan fungsi sendi, meningkatkan kemampuan bergerak, dan membantu pasien tetap aktif.
Penanganan dapat meliputi:
1. Olahraga dan Latihan Terapeutik
Olahraga merupakan salah satu bagian utama penanganan OA.
Latihan dapat disesuaikan dengan kondisi pasien, misalnya:
• Latihan penguatan otot
• Latihan fleksibilitas
• Latihan aerobik
• Latihan rentang gerak
WHO dan NICE menekankan pentingnya aktivitas fisik dan latihan terapeutik dalam pengelolaan OA.
Pada awal latihan, nyeri mungkin sedikit meningkat. Namun, latihan yang dilakukan secara konsisten dan sesuai kemampuan dapat membantu mengurangi nyeri serta meningkatkan fungsi dalam jangka panjang.
2. Menjaga Berat Badan
Bagi pasien dengan kelebihan berat badan atau obesitas, penurunan berat badan dapat membantu mengurangi beban pada sendi dan memperbaiki fungsi.
Program penurunan berat badan sebaiknya dilakukan secara bertahap dan realistis dengan memperhatikan kondisi kesehatan pasien.
3. Obat Pereda Nyeri
Dokter dapat mempertimbangkan obat untuk mengendalikan nyeri sesuai kondisi pasien.
Untuk osteoarthritis lutut, NICE merekomendasikan NSAID topikal sebagai salah satu pilihan terapi farmakologis. NSAID oral dapat dipertimbangkan apabila terapi topikal tidak efektif atau tidak sesuai, dengan memperhatikan risiko terhadap lambung, ginjal, hati, jantung, serta obat lain yang sedang dikonsumsi.
Karena obat antiinflamasi dapat memiliki efek samping, penggunaannya sebaiknya berdasarkan anjuran dokter.
4. Injeksi Sendi
Pada kondisi tertentu, dokter dapat mempertimbangkan injeksi kortikosteroid intra-artikular.
Menurut NICE, injeksi kortikosteroid dapat dipertimbangkan ketika terapi farmakologis lain tidak efektif atau tidak sesuai, atau untuk membantu pasien menjalani latihan terapeutik. Efeknya umumnya bersifat jangka pendek, sekitar 2–10 minggu.
Tidak semua jenis injeksi sendi direkomendasikan secara rutin. Karena itu, pilihan terapi harus didiskusikan dengan dokter berdasarkan kondisi masing-masing pasien.
5. Rehabilitasi Medik
Rehabilitasi bertujuan membantu pasien:
• Mengurangi nyeri
• Meningkatkan kekuatan otot
• Mempertahankan fleksibilitas
• Meningkatkan kemampuan berjalan
• Mempertahankan kemandirian
• Kembali melakukan aktivitas sehari-hari
Program rehabilitasi dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan setiap pasien.
6. Operasi Penggantian Sendi
Pada osteoarthritis yang berat, ketika nyeri dan keterbatasan fungsi sangat mengganggu kualitas hidup dan terapi non-operatif tidak lagi efektif atau sesuai, dokter dapat mempertimbangkan operasi penggantian sendi (joint replacement).
Tindakan ini paling sering dilakukan pada sendi lutut dan panggul.
Keputusan operasi dilakukan melalui evaluasi menyeluruh oleh dokter dan mempertimbangkan kondisi kesehatan serta kebutuhan pasien.
Benarkah Osteoarthritis Tidak Bisa Diapa-apakan?
Tidak benar.
Osteoarthritis memang merupakan kondisi kronis dan belum memiliki terapi yang dapat mengembalikan sendi sepenuhnya seperti sebelum mengalami perubahan.
Namun, gejala dan fungsi sendi dapat dikelola.
Dengan:
✔ Latihan yang tepat
✔ Berat badan yang sehat
✔ Edukasi
✔ Pengendalian nyeri
✔ Rehabilitasi
✔ Obat sesuai indikasi
✔ Tindakan medis atau operasi pada kasus tertentu
pasien tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih baik.
Tips Menjaga Kesehatan Sendi
Beberapa kebiasaan yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan sendi:
Tetap Aktif
Hindari terlalu lama tidak bergerak. Pilih aktivitas yang sesuai kemampuan dan kondisi sendi.
Jaga Berat Badan
Mempertahankan berat badan sehat dapat membantu mengurangi beban pada sendi, terutama lutut dan panggul.
Perkuat Otot
Otot yang kuat membantu menopang dan menstabilkan sendi.
Hindari Beban Berlebihan
Gunakan teknik yang tepat saat mengangkat barang dan hindari aktivitas berulang yang memberikan tekanan berlebihan pada sendi.
Tangani Cedera Sendi dengan Tepat
Jangan mengabaikan cedera olahraga atau kecelakaan yang melibatkan sendi.
Kapan Harus Berkonsultasi ke Dokter?
Sebaiknya konsultasikan keluhan kepada dokter apabila:
• Nyeri sendi berlangsung terus-menerus
• Nyeri mengganggu aktivitas sehari-hari
• Sendi terasa semakin kaku
• Sendi mengalami pembengkakan berulang
• Sulit berjalan atau menaiki tangga
• Nyeri tidak membaik dengan istirahat
• Keluhan semakin berat dari waktu ke waktu
Semakin cepat penyebab nyeri diketahui, semakin cepat pula program penanganan dapat disesuaikan.
Layanan RSU Budi Kemuliaan untuk Keluhan Nyeri Sendi
RSU Budi Kemuliaan berkomitmen memberikan pelayanan kesehatan yang menyeluruh bagi masyarakat, termasuk dalam penanganan keluhan nyeri sendi dan gangguan gerak.
Pasien dapat memperoleh evaluasi sesuai kebutuhan melalui dokter terkait, serta mendapatkan rujukan atau penanganan lanjutan apabila diperlukan.
Pendekatan pelayanan tidak hanya berfokus pada mengurangi rasa sakit, tetapi juga membantu pasien mempertahankan fungsi, mobilitas, dan kualitas hidup.
Kesimpulan
Osteoarthritis bukan sekadar "pengapuran" dan bukan berarti harus berhenti beraktivitas.
Osteoarthritis merupakan penyakit sendi kronis yang dapat menyebabkan nyeri, kekakuan, dan keterbatasan gerak. Lutut, panggul, tangan, kaki, dan tulang belakang merupakan beberapa lokasi yang paling sering terkena.
Meskipun tidak dapat dianggap sebagai kondisi yang dapat disembuhkan sepenuhnya, OA dapat dikelola dengan baik melalui kombinasi latihan terapeutik, pengelolaan berat badan, edukasi, obat-obatan sesuai indikasi, rehabilitasi, serta tindakan medis atau operasi pada kondisi tertentu.
Jangan biarkan nyeri sendi membatasi aktivitas dan kualitas hidup Anda.
Jika Anda mengalami nyeri atau kekakuan sendi yang menetap, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan rencana penanganan yang sesuai.
RSU Budi Kemuliaan
Rawat Nyeri Sendi, Pertahankan Gerak, Tingkatkan Kualitas Hidup.
Sumber
1. National Institute for Health and Care Excellence (NICE). Osteoarthritis in over 16s: diagnosis and management (NG226). 2022.
2. American College of Rheumatology (ACR) & Arthritis Foundation. 2019 Guideline for the Management of Osteoarthritis of the Hand, Hip, and Knee.
3. Long H, Liu Q, Yin H, et al. Prevalence trends of site-specific osteoarthritis from 1990 to 2019: Findings from the Global Burden of Disease Study 2019. Arthritis & Rheumatology. 2022;74(7):1172–1183. doi: 10.1002/art.42089. Epub 2022 Jun 2. PMID: 35233975; PMCID: PMC9543105.
Operasi Katarak dengan Metode Phacoemulsification: Prosedur Modern untuk Mengembalikan Penglihatan Lebih Jelas
Penglihatan yang mulai berkabut, silau saat melihat lampu di malam hari, warna tampak semakin pudar, atau merasa seperti melihat melalui kabut sering kali dianggap sebagai bagian normal dari pertambahan usia. Padahal, keluhan tersebut dapat menjadi tanda katarak.
Katarak merupakan kondisi ketika lensa alami mata yang seharusnya jernih menjadi keruh sehingga cahaya tidak dapat difokuskan dengan optimal ke retina. Akibatnya, penglihatan menjadi buram dan aktivitas sehari-hari seperti membaca, mengemudi, bekerja, atau mengenali wajah dapat terganggu.
Kabar baiknya, katarak dapat ditangani. Hingga saat ini, operasi merupakan satu-satunya cara untuk menghilangkan katarak secara definitif. Salah satu teknik operasi yang banyak digunakan dalam bedah katarak modern adalah phacoemulsification (fakoemulsifikasi), yaitu teknik menggunakan energi ultrasonik untuk memecah lensa yang keruh menjadi bagian-bagian kecil sebelum dikeluarkan dari mata dan digantikan dengan lensa buatan atau intraocular lens (IOL).
Apa Itu Katarak?
Katarak adalah kekeruhan pada lensa alami mata. Lensa normal bersifat transparan dan berfungsi memfokuskan cahaya agar terbentuk gambaran yang jelas pada retina.
Ketika lensa mengalami kekeruhan, cahaya yang masuk ke mata menjadi tersebar sehingga penglihatan dapat menjadi buram atau berkabut.
Katarak paling sering berkaitan dengan proses penuaan, tetapi perkembangannya dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti diabetes, riwayat trauma mata, merokok, serta paparan sinar ultraviolet yang berlebihan.
Secara global, katarak masih menjadi salah satu penyebab utama gangguan penglihatan dan kebutaan. WHO memperkirakan katarak memengaruhi lebih dari 94 juta orang di seluruh dunia.
Apa Saja Gejala Katarak?
Katarak biasanya berkembang secara perlahan. Pada tahap awal, keluhan mungkin ringan dan tidak terlalu mengganggu. Seiring kekeruhan lensa bertambah, pasien dapat mengalami:
• Penglihatan buram atau berkabut.
• Penglihatan terasa lebih redup.
• Sulit melihat pada malam hari.
• Silau ketika melihat lampu atau sinar matahari.
• Muncul halo atau lingkaran cahaya di sekitar sumber cahaya.
• Warna terlihat lebih pudar atau kekuningan.
• Kesulitan membaca meskipun sebelumnya dapat membaca dengan baik.
• Sering membutuhkan pencahayaan yang lebih terang.
• Penglihatan ganda pada satu mata.
• Ukuran kacamata sering berubah atau kacamata lama terasa tidak lagi membantu.
Penting: tidak semua gangguan penglihatan disebabkan oleh katarak. Keluhan serupa juga dapat terjadi pada kelainan refraksi, glaukoma, penyakit retina, atau gangguan mata lainnya. Karena itu, pemeriksaan oleh dokter spesialis mata diperlukan untuk menentukan penyebabnya.
Kapan Katarak Perlu Dioperasi?
Tidak semua katarak harus langsung dioperasi setelah ditemukan.
Pada katarak tahap awal, dokter mungkin masih dapat membantu pasien dengan mengoptimalkan kacamata, pencahayaan, atau strategi lain untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
Namun, operasi biasanya dipertimbangkan ketika katarak mulai mengganggu aktivitas dan kualitas hidup pasien, misalnya:
• Kesulitan membaca.
• Kesulitan bekerja.
• Kesulitan mengemudi.
• Sulit melihat pada malam hari.
• Aktivitas sehari-hari menjadi terganggu.
• Penglihatan tidak lagi dapat dikoreksi secara memadai dengan kacamata.
• Katarak menghambat pemeriksaan atau penanganan penyakit lain di bagian belakang mata.
Keputusan operasi sebaiknya dilakukan melalui diskusi antara pasien dan dokter spesialis mata dengan mempertimbangkan kondisi mata, kesehatan umum, kebutuhan visual, manfaat, risiko, serta harapan pasien.
Apa Itu Operasi Katarak dengan Metode Phacoemulsification?
Phacoemulsification atau fakoemulsifikasi merupakan teknik operasi katarak modern yang menggunakan energi ultrasonik untuk memecah lensa mata yang mengalami katarak menjadi fragmen-fragmen kecil sehingga dapat dikeluarkan melalui sayatan kecil.
Setelah lensa yang keruh dikeluarkan, dokter akan memasukkan intraocular lens (IOL) untuk menggantikan fungsi optik lensa alami.
Secara sederhana:
Lensa keruh → dipecah menggunakan energi ultrasonik → dikeluarkan → diganti dengan IOL.
Berbeda dengan teknik operasi katarak lama yang memerlukan sayatan lebih besar untuk mengeluarkan lensa, teknik phacoemulsification memungkinkan pengangkatan lensa melalui sayatan yang relatif kecil.
Bagaimana Proses Operasi Phacoemulsification?
Secara umum, rangkaian tindakan terdiri dari beberapa tahap.
1. Pemeriksaan sebelum operasi
Sebelum operasi, dokter spesialis mata akan melakukan pemeriksaan untuk memastikan kondisi mata dan menentukan perencanaan operasi.
Pemeriksaan dapat mencakup:
• Pemeriksaan tajam penglihatan.
• Pemeriksaan segmen anterior dan posterior mata.
• Pengukuran biometrik mata.
• Pengukuran panjang bola mata dan parameter kornea.
• Perhitungan kekuatan IOL yang akan ditanam.
• Evaluasi kondisi retina dan saraf optik bila diperlukan.
• Penilaian penyakit penyerta yang dapat memengaruhi hasil operasi.
Pengukuran mata sebelum operasi sangat penting karena hasilnya digunakan untuk membantu menentukan kekuatan lensa intraokular yang akan ditanam.
2. Persiapan dan anestesi
Operasi katarak umumnya dilakukan dengan anestesi lokal/topikal sehingga pasien tetap sadar selama prosedur.
Obat tetes anestesi diberikan untuk membuat mata mati rasa. Pada kondisi tertentu, dokter dapat menggunakan teknik anestesi tambahan sesuai kebutuhan pasien.
Pasien mungkin tetap melihat cahaya atau gerakan selama operasi, tetapi seharusnya tidak melihat detail tindakan pembedahan secara jelas.
3. Membuat sayatan kecil
Dokter membuat akses melalui bagian depan mata, biasanya di area kornea perifer.
Pada teknik modern, sayatan dibuat sedemikian rupa sehingga dapat bersifat self-sealing, sehingga pada banyak kasus tidak memerlukan jahitan. Namun, kebutuhan jahitan tetap bergantung pada kondisi dan pertimbangan dokter selama operasi.
4. Membuka kapsul lensa
Dokter membuat bukaan terkontrol pada kapsul bagian depan lensa untuk mendapatkan akses ke lensa katarak.
Kapsul lensa yang tersisa akan membantu menjadi tempat penyangga bagi IOL yang baru.
5. Phacoemulsification
Inilah tahap utama yang membedakan metode ini.
Alat khusus dengan ujung ultrasonik digunakan untuk memecah inti lensa yang keruh menjadi fragmen-fragmen kecil.
Fragmen tersebut kemudian diaspirasi keluar dari mata menggunakan sistem irigasi-aspirasi.
6. Pemasangan lensa intraokular atau IOL
Setelah lensa katarak dikeluarkan, dokter memasukkan intraocular lens (IOL) ke dalam mata.
Pada kondisi yang memungkinkan, IOL biasanya ditempatkan di dalam kapsul lensa yang masih dipertahankan.
IOL berfungsi menggantikan kemampuan optik lensa alami yang telah dikeluarkan.
7. Penyelesaian operasi
Dokter memastikan posisi IOL dan kondisi mata, kemudian menutup akses operasi.
Pada sayatan kecil yang stabil, luka dapat menutup sendiri tanpa jahitan. Setelah itu pasien dipantau sebelum diperbolehkan pulang sesuai kondisi dan protokol fasilitas pelayanan kesehatan.
Apakah Operasi Phacoemulsification Sakit?
Salah satu kekhawatiran pasien yang paling sering muncul adalah:
“Apakah operasi katarak terasa sakit?”
Pada umumnya, operasi dilakukan dengan anestesi lokal/topikal sehingga pasien tidak merasakan nyeri tajam selama tindakan.
Pasien dapat merasakan sensasi seperti tekanan, sentuhan, atau melihat cahaya dan gerakan selama operasi. Dokter juga dapat memberikan obat untuk membantu pasien lebih rileks bila diperlukan.
ESCRS merekomendasikan anestesi topikal sebagai teknik yang banyak digunakan dan sesuai untuk pasien yang memenuhi kriteria, dengan anestesi tambahan dapat dipertimbangkan pada kondisi tertentu.
Apa Itu IOL dan Apa Saja Jenisnya?
Setelah lensa katarak dikeluarkan, mata membutuhkan pengganti lensa untuk membantu memfokuskan cahaya.
Pengganti tersebut disebut intraocular lens (IOL).
Pemilihan IOL tidak dapat disamaratakan untuk semua pasien. Dokter akan mempertimbangkan kondisi mata, kebutuhan aktivitas, kondisi kornea dan retina, kelainan refraksi, serta harapan pasien.
Secara umum, pilihan IOL dapat meliputi:
1. Monofocal IOL
Dirancang untuk memberikan fokus utama pada satu jarak, paling sering untuk penglihatan jauh.
Pasien masih mungkin membutuhkan kacamata untuk aktivitas jarak dekat, seperti membaca.
2. Enhanced monofocal / EDOF
Jenis tertentu dirancang untuk memberikan rentang penglihatan yang lebih luas dibandingkan monofokal konvensional, terutama untuk jarak jauh hingga menengah.
3. Multifocal IOL
Dirancang untuk memberikan penglihatan pada lebih dari satu jarak, misalnya jauh, menengah, dan dekat, sehingga pada pasien yang sesuai dapat mengurangi ketergantungan terhadap kacamata.
Namun, jenis IOL tertentu juga dapat meningkatkan kemungkinan munculnya keluhan visual seperti glare atau halo pada sebagian pasien.
4. Toric IOL
Dirancang untuk membantu mengoreksi astigmatisme kornea pada pasien yang memenuhi kriteria.
ESCRS merekomendasikan pertimbangan toric IOL pada derajat astigmatisme kornea tertentu, dengan manfaat yang semakin kuat pada astigmatisme yang lebih tinggi.
Jadi, “lensa terbaik” bukan berarti satu jenis lensa yang cocok untuk semua orang. Pemilihan IOL sebaiknya dilakukan melalui diskusi dan keputusan bersama antara pasien dan dokter spesialis mata.
Apa Keuntungan Phacoemulsification?
Dengan teknik modern dan pemilihan pasien yang tepat, operasi katarak dapat memberikan perbaikan fungsi penglihatan yang bermakna.
Beberapa keuntungan teknik phacoemulsification antara lain:
• Menggunakan sayatan yang relatif kecil.
• Lensa katarak dapat dipecah menjadi fragmen kecil sebelum dikeluarkan.
• Memungkinkan pemasangan IOL pada prosedur yang sama.
• Pada banyak kasus, luka operasi tidak membutuhkan jahitan.
• Pemulihan penglihatan dapat berlangsung relatif cepat, meskipun kecepatannya berbeda pada setiap pasien.
• Merupakan salah satu teknik operasi katarak yang telah digunakan secara luas.
WHO menekankan bahwa kualitas operasi katarak harus diperhatikan pada seluruh rangkaian pelayanan, mulai dari fase sebelum operasi, selama operasi, hingga perawatan setelah operasi.
Bagaimana Pemulihan Setelah Operasi?
Setelah operasi, penglihatan tidak selalu langsung menjadi sempurna.
Pada beberapa pasien dapat terjadi:
• Penglihatan masih agak buram.
• Mata terasa mengganjal atau seperti ada benda asing.
• Mata sedikit merah.
• Sensitif terhadap cahaya.
• Penglihatan membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan IOL baru.
Keluhan ringan tersebut dapat merupakan bagian dari proses penyembuhan. Lama pemulihan dapat berbeda-beda tergantung kondisi mata, tingkat kekerasan katarak, teknik operasi, penyakit penyerta, dan faktor lainnya.
Dokter biasanya memberikan obat tetes mata sesuai kondisi pasien dan menjadwalkan pemeriksaan kontrol untuk memantau proses penyembuhan.
Apa yang Perlu Diperhatikan Setelah Operasi?
Untuk membantu proses pemulihan, pasien perlu mengikuti instruksi dokter, termasuk:
• Menggunakan obat tetes sesuai resep dan jadwal.
• Tidak menggosok atau menekan mata.
• Menjaga kebersihan tangan sebelum menggunakan obat tetes.
• Menghindari aktivitas yang dilarang dokter selama masa pemulihan.
• Menggunakan pelindung mata bila dianjurkan.
• Datang sesuai jadwal kontrol.
• Segera menghubungi fasilitas kesehatan jika muncul keluhan yang tidak biasa.
Instruksi pascaoperasi dapat berbeda antara satu pasien dengan pasien lainnya sehingga sebaiknya mengikuti petunjuk dokter yang melakukan pemeriksaan dan tindakan.
Apakah Katarak Bisa Muncul Lagi Setelah Operasi?
Katarak yang sudah dikeluarkan tidak tumbuh kembali.
Namun, beberapa waktu setelah operasi, sebagian pasien dapat mengalami kekeruhan pada kapsul lensa yang berada di belakang IOL. Kondisi ini disebut posterior capsule opacification (PCO).
Keluhannya dapat menyerupai katarak, seperti penglihatan kembali berkabut atau menurun.
PCO dapat ditangani dengan prosedur laser yang disebut Nd laser capsulotomy, yaitu membuat bukaan pada kapsul yang keruh agar cahaya dapat kembali melewati jalur optik dengan lebih baik.
Jadi, kondisi ini bukan berarti “kataraknya tumbuh kembali”.
Apa Saja Risiko atau Komplikasi Operasi Katarak?
Seperti prosedur medis lainnya, operasi katarak memiliki risiko meskipun komplikasi serius relatif jarang pada operasi modern.
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi antara lain:
• Infeksi intraokular atau endophthalmitis.
• Peningkatan tekanan intraokular.
• Peradangan.
• Edema kornea.
• Perdarahan.
• Ruptur kapsul posterior.
• Cystoid macular edema.
• Masalah pada retina, termasuk robekan atau ablasio retina pada kondisi tertentu.
• Pergeseran atau dislokasi IOL.
• Posterior capsule opacification.
• Keluhan visual seperti glare atau halo.
• Penurunan penglihatan yang tidak sesuai harapan akibat penyakit mata lain atau komplikasi.
Risiko individual berbeda-beda. Kondisi seperti penyakit retina, glaukoma, diabetes, gangguan kornea, riwayat operasi mata, atau kondisi mata lainnya dapat memengaruhi prognosis visual setelah operasi.
Kapan Harus Segera Kembali ke Dokter?
Setelah operasi, pasien perlu segera mendapatkan pemeriksaan apabila mengalami:
• Nyeri mata yang berat atau semakin bertambah.
• Penurunan penglihatan yang tiba-tiba atau semakin memburuk.
• Mata semakin merah.
• Keluar cairan atau kotoran dari mata.
• Kilatan cahaya baru.
• Banyak floaters baru.
• Muncul seperti tirai atau bayangan menutup sebagian lapang pandang.
Keluhan tersebut perlu dievaluasi karena dapat menjadi tanda komplikasi yang membutuhkan penanganan segera.
Apakah Operasi Katarak Harus Menunggu Katarak “Matang”?
Tidak selalu.
Pasien tidak harus menunggu sampai katarak menjadi sangat tebal atau “matang” apabila katarak sudah mengganggu aktivitas dan kualitas hidup.
Keputusan operasi lebih tepat didasarkan pada seberapa besar gangguan penglihatan yang ditimbulkan katarak, kondisi mata, kebutuhan pasien, serta pertimbangan dokter spesialis mata.
Karena itu, apabila penglihatan mulai terganggu, pemeriksaan mata sebaiknya dilakukan lebih awal daripada menunggu sampai aktivitas sehari-hari sangat terbatas.
Mitos atau Fakta Seputar Operasi Katarak
“Katarak harus matang dulu baru boleh dioperasi.”
MITOS.
Operasi dapat dipertimbangkan ketika katarak sudah mengganggu fungsi penglihatan dan aktivitas sehari-hari. Tidak harus menunggu sampai katarak sangat matang.
“Setelah operasi katarak, kataraknya bisa tumbuh lagi.”
MITOS.
Lensa yang mengalami katarak telah dikeluarkan. Namun, kapsul lensa dapat mengalami kekeruhan setelah operasi atau PCO dan dapat ditangani dengan laser YAG bila diperlukan.
“Operasi katarak selalu harus dijahit.”
MITOS.
Pada teknik modern dengan sayatan kecil, luka dapat bersifat self-sealing sehingga pada banyak kasus tidak memerlukan jahitan. Namun, keputusan akhir bergantung pada kondisi mata dan pertimbangan dokter.
“Setelah operasi katarak pasti tidak membutuhkan kacamata lagi.”
MITOS.
Ketergantungan terhadap kacamata setelah operasi bergantung pada jenis IOL, target refraksi, kondisi mata, dan kebutuhan visual pasien. Sebagian pasien masih membutuhkan kacamata untuk aktivitas tertentu.
Mengapa Pemeriksaan Sebelum Operasi Sangat Penting?
Operasi katarak bukan sekadar “mengeluarkan lensa yang keruh”.
Hasil penglihatan setelah operasi juga dipengaruhi oleh kondisi retina, kornea, saraf optik, penyakit penyerta, pengukuran mata, pemilihan IOL, teknik operasi, serta perawatan pascaoperasi.
Karena itu, evaluasi menyeluruh sebelum operasi merupakan bagian penting dari pelayanan katarak.
WHO dalam rekomendasi kualitas pelayanan operasi katarak tahun 2026 menekankan pentingnya mutu pelayanan pada fase preoperatif, intraoperatif, dan postoperatif untuk mencapai hasil operasi yang optimal.
Operasi Katarak dengan Phacoemulsification di RSU Budi Kemuliaan
RSU Budi Kemuliaan menghadirkan pelayanan kesehatan mata untuk membantu masyarakat mendapatkan diagnosis dan penanganan gangguan penglihatan secara tepat.
Bagi pasien yang mengalami penglihatan buram, silau, kesulitan melihat pada malam hari, atau keluhan lain yang mengarah pada katarak, pemeriksaan oleh dokter spesialis mata penting dilakukan untuk mengetahui penyebab keluhan dan menentukan pilihan terapi yang sesuai.
Apabila katarak sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, dokter dapat melakukan evaluasi lebih lanjut untuk menentukan apakah pasien merupakan kandidat operasi katarak, termasuk dengan metode phacoemulsification dan pemasangan intraocular lens (IOL) sesuai kondisi serta kebutuhan visual pasien.
Jangan tunggu penglihatan semakin terbatas. Kenali gejalanya, lakukan pemeriksaan mata, dan diskusikan pilihan penanganan bersama dokter spesialis mata.
Kesimpulan
Katarak merupakan kekeruhan lensa alami mata yang dapat menyebabkan penglihatan buram, silau, kesulitan melihat malam hari, hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Operasi merupakan terapi definitif untuk menghilangkan katarak. Salah satu metode yang banyak digunakan dalam operasi katarak modern adalah phacoemulsification, yaitu memecah lensa yang keruh menggunakan energi ultrasonik melalui sayatan kecil, mengeluarkannya, kemudian menggantinya dengan intraocular lens (IOL).
Dengan perkembangan teknologi dan teknik bedah modern, operasi katarak saat ini merupakan tindakan yang efektif untuk memperbaiki gangguan penglihatan akibat katarak. Namun, keberhasilan visual tidak hanya ditentukan oleh tindakan operasi, melainkan juga oleh pemeriksaan sebelum operasi, pemilihan IOL yang tepat, kondisi mata pasien, teknik pembedahan, serta perawatan dan kontrol setelah operasi.
Jika Anda atau anggota keluarga mulai mengalami penglihatan berkabut atau aktivitas sehari-hari terganggu karena penglihatan menurun, jangan ragu untuk melakukan pemeriksaan mata.
Sumber
1. World Health Organization (WHO). Summary of recommendations for quality of care in cataract surgery management. 2026.
2. National Eye Institute (NEI). Cataract Surgery. https://www.nei.nih.gov/eye-health-information/eye-conditions-and-diseases/cataracts/cataract-surgery
3. American Academy of Ophthalmology EyeWiki. Cataract Surgery Complications. Updated September 2026. https://www.aao.org/eye-health/diseases/cataract-surgery-complications
Gangguan Refraksi: Kenali Jenis, Gejala, dan Cara Menjaga Kesehatan Mata
Penglihatan Buram? Bisa Jadi Gangguan Refraksi
Pernah merasa pandangan jauh terlihat buram, sulit membaca tulisan kecil, atau harus menyipitkan mata agar dapat melihat dengan lebih jelas?
Keluhan tersebut dapat disebabkan oleh gangguan refraksi, salah satu masalah mata yang sangat umum terjadi pada anak maupun orang dewasa.
Gangguan refraksi terjadi ketika bentuk atau panjang bola mata menyebabkan cahaya tidak dapat difokuskan dengan tepat pada retina. Akibatnya, objek yang dilihat menjadi tidak fokus atau tampak buram.
Gangguan refraksi dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, proses belajar anak, pekerjaan, hingga kualitas hidup apabila tidak dikoreksi dengan baik.
Kabar baiknya, gangguan refraksi umumnya dapat dikoreksi secara efektif dengan kacamata, lensa kontak, dan pada orang tertentu dapat dipertimbangkan tindakan bedah refraktif.
Lalu, apa saja jenis gangguan refraksi? Apa penyebabnya? Apakah gangguan refraksi dapat dicegah?
Simak penjelasan berikut.
Apa Itu Gangguan Refraksi?
Gangguan refraksi (refractive error) adalah kondisi ketika cahaya yang masuk ke mata tidak difokuskan secara tepat pada retina sehingga menyebabkan penglihatan menjadi buram.
Secara normal, kornea dan lensa mata membiaskan cahaya sehingga bayangan dapat difokuskan pada retina.
Pada gangguan refraksi, bentuk atau panjang bola mata menyebabkan titik fokus cahaya tidak berada pada posisi yang seharusnya.
WHO menyebutkan gangguan refraksi sebagai salah satu penyebab utama gangguan penglihatan di dunia. Gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi yang tidak dikoreksi sebenarnya dapat diperbaiki dengan intervensi yang relatif sederhana, terutama penggunaan kacamata sesuai resep.
Jenis-Jenis Gangguan Refraksi
Secara umum terdapat empat jenis gangguan refraksi yang paling sering ditemukan:
1. Miopia (Rabun Jauh)
Miopia adalah kondisi ketika seseorang dapat melihat objek dekat dengan lebih jelas, tetapi mengalami kesulitan melihat objek yang jauh.
Contohnya:
• Tulisan di papan sekolah terlihat buram
• Sulit melihat rambu lalu lintas dari jauh
• Harus mendekati objek agar terlihat jelas
• Sering menyipitkan mata ketika melihat jauh
Miopia dapat mulai muncul pada masa kanak-kanak dan remaja.
Pada sebagian anak, miopia dapat bertambah berat seiring pertumbuhan bola mata. Miopia tinggi dapat meningkatkan risiko komplikasi mata di kemudian hari.
2. Hipermetropia (Rabun Dekat)
Hipermetropia terjadi ketika mata mengalami kesulitan memfokuskan objek, terutama pada jarak dekat.
Keluhan dapat berupa:
• Kesulitan membaca
• Mata cepat lelah
• Sakit kepala setelah membaca
• Penglihatan dekat buram
• Mata terasa tidak nyaman saat melakukan pekerjaan jarak dekat
Namun, gejalanya dapat berbeda tergantung derajat hipermetropia dan kemampuan akomodasi mata.
3. Astigmatisme (Mata Silinder)
Astigmatisme terjadi ketika permukaan kornea atau lensa memiliki kelengkungan yang tidak merata sehingga cahaya tidak difokuskan pada satu titik dengan sempurna.
Akibatnya, penglihatan dapat terasa:
• Buram
• Tidak tajam
• Distorsi
• Sulit melihat detail
• Mata cepat lelah
• Sakit kepala, terutama setelah aktivitas visual
Astigmatisme dapat terjadi bersamaan dengan miopia atau hipermetropia.
4. Presbiopia (Mata Tua)
Presbiopia merupakan gangguan penglihatan dekat yang berkaitan dengan proses penuaan.
Seiring bertambahnya usia, kemampuan lensa mata untuk mengubah fokus terhadap objek dekat berkurang.
Keluhan biasanya mulai terasa setelah usia sekitar 40 tahun dan dapat berupa:
• Sulit membaca tulisan kecil
• Harus menjauhkan buku atau ponsel agar tulisan terlihat
• Membutuhkan pencahayaan lebih terang saat membaca
• Mata cepat lelah ketika membaca
• Sakit kepala setelah melakukan pekerjaan jarak dekat
Presbiopia merupakan bagian alami dari proses penuaan dan pada akhirnya terjadi hampir pada semua orang.
Apa Penyebab Gangguan Refraksi?
Penyebab gangguan refraksi dapat berbeda-beda.
Beberapa faktor yang berperan antara lain:
Bentuk dan Panjang Bola Mata
Perubahan panjang bola mata dapat menyebabkan titik fokus cahaya bergeser dari retina.
Bentuk Kornea
Kelainan atau ketidakteraturan bentuk kornea dapat menyebabkan astigmatisme.
Perubahan Lensa Mata
Perubahan kemampuan lensa untuk memfokuskan objek dekat berperan pada terjadinya presbiopia.
Faktor Genetik
Riwayat keluarga, khususnya pada miopia, dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami gangguan refraksi.
Faktor Lingkungan
Pada miopia anak, faktor lingkungan juga berperan. Waktu yang lebih sedikit di luar ruangan dan pola aktivitas visual jarak dekat tertentu berkaitan dengan peningkatan risiko miopia.
Apakah Terlalu Sering Menggunakan Gadget Menyebabkan Mata Minus?
Penggunaan perangkat digital sering dikaitkan dengan meningkatnya keluhan mata pada anak.
Namun, penting membedakan antara mata lelah akibat penggunaan layar dan miopia.
Paparan perangkat digital dapat membuat mata terasa lelah, kering, atau tidak nyaman, terutama bila digunakan dalam waktu lama tanpa istirahat.
Sementara itu, hubungan langsung antara penggunaan perangkat elektronik dan perkembangan miopia masih terus diteliti. International Myopia Institute menyatakan bahwa bukti mengenai dampak penggunaan perangkat elektronik secara spesifik terhadap perkembangan dan progresivitas miopia masih belum konklusif.
Karena itu, yang lebih penting adalah menerapkan kebiasaan visual yang sehat, termasuk memberikan waktu istirahat dari aktivitas jarak dekat dan memastikan anak mendapatkan cukup aktivitas di luar ruangan.
Apa Saja Gejala Gangguan Refraksi?
Gangguan refraksi dapat menyebabkan:
• Penglihatan jauh buram
• Penglihatan dekat buram
• Mata cepat lelah
• Sakit kepala
• Sering menyipitkan mata
• Kesulitan membaca
• Sulit melihat tulisan di papan
• Kesulitan melihat detail dari kejauhan
• Kesulitan fokus ketika berpindah antara jarak dekat dan jauh
• Anak sering mendekatkan buku atau layar ke wajah
Pada anak-anak, gangguan refraksi terkadang tidak disadari karena mereka menganggap penglihatan yang buram sebagai kondisi normal.
Karena itu, pemeriksaan mata secara berkala sangat penting.
Gangguan Refraksi pada Anak
Gangguan refraksi yang tidak dikoreksi pada anak dapat mengganggu proses belajar dan perkembangan kemampuan visual.
Anak dengan gangguan penglihatan dapat:
• Kesulitan melihat tulisan di papan
• Tidak nyaman membaca
• Cepat kehilangan konsentrasi saat belajar
• Menghindari aktivitas tertentu
• Mendekatkan buku atau layar ke wajah
WHO merekomendasikan deteksi gangguan refraksi pada anak untuk mencegah dampak terhadap fungsi penglihatan dan proses pendidikan.
Orang tua sebaiknya memperhatikan tanda-tanda seperti:
• Anak sering menyipitkan mata
• Sering mengucek mata
• Duduk terlalu dekat dengan televisi
• Memegang buku terlalu dekat
• Sering mengeluh sakit kepala
• Kesulitan membaca tulisan di papan
• Prestasi belajar menurun tanpa sebab yang jelas
Bagaimana Gangguan Refraksi Didiagnosis?
Gangguan refraksi dapat diketahui melalui pemeriksaan mata oleh tenaga kesehatan mata.
Pemeriksaan dapat mencakup:
Pemeriksaan Ketajaman Penglihatan
Digunakan untuk mengetahui seberapa jelas seseorang dapat melihat pada jarak tertentu.
Pemeriksaan Refraksi
Dilakukan untuk menentukan ukuran lensa yang diperlukan agar penglihatan menjadi lebih jelas.
Pemeriksaan Mata Menyeluruh
Dokter dapat melakukan pemeriksaan bagian mata lainnya untuk memastikan tidak terdapat penyakit mata lain yang menyebabkan gangguan penglihatan.
Pada anak tertentu, dokter dapat melakukan pemeriksaan refraksi dengan metode khusus, termasuk setelah pemberian obat tetes untuk mengurangi kemampuan akomodasi bila diperlukan.
Bagaimana Cara Mengatasi Gangguan Refraksi?
1. Kacamata
Kacamata merupakan salah satu cara paling sederhana dan paling banyak digunakan untuk mengoreksi gangguan refraksi.
Kacamata bekerja dengan mengarahkan kembali cahaya agar dapat difokuskan dengan lebih tepat pada retina.
WHO menyebutkan kacamata sebagai intervensi yang umum, non-invasif, dan efektif untuk mengatasi gangguan refraksi.
2. Lensa Kontak
Lensa kontak dapat menjadi alternatif bagi sebagian pasien.
Namun, penggunaannya membutuhkan kebersihan dan perawatan yang baik untuk mencegah infeksi mata.
Pengguna lensa kontak harus:
• Mencuci tangan sebelum memasang atau melepas lensa
• Mengikuti jadwal penggantian lensa
• Tidak menggunakan air untuk membersihkan lensa
• Tidak tidur dengan lensa kecuali memang direkomendasikan dokter
• Mengikuti petunjuk perawatan lensa
3. Bedah Refraktif
Pada pasien tertentu, tindakan bedah refraktif dapat menjadi pilihan untuk mengoreksi kelainan refraksi.
Contohnya adalah prosedur berbasis laser seperti LASIK, PRK, atau prosedur lain sesuai indikasi.
Tidak semua orang merupakan kandidat untuk operasi refraktif.
Pemeriksaan dan evaluasi menyeluruh oleh dokter spesialis mata diperlukan sebelum menentukan apakah tindakan tersebut sesuai.
Apakah Gangguan Refraksi Bisa Dicegah?
Ini merupakan hal penting yang perlu dipahami.
Tidak semua gangguan refraksi dapat dicegah.
Menurut WHO, presbiopia, hipermetropia, dan astigmatisme tidak dapat dicegah secara pasti. Namun, pada anak, terdapat strategi yang dapat membantu menunda munculnya miopia dan memperlambat perkembangannya.
Karena itu, fokus pencegahan terutama ditujukan pada miopia pada anak dan remaja.
Cara Membantu Mencegah dan Memperlambat Miopia pada Anak
1. Perbanyak Aktivitas di Luar Ruangan
Anak dianjurkan memiliki cukup waktu untuk beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.
WHO merekomendasikan setidaknya sekitar 90 menit aktivitas di luar ruangan pada siang hari sebagai salah satu strategi yang dapat membantu menunda onset dan memperlambat progresivitas miopia pada anak.
International Myopia Institute pada rekomendasi terbarunya juga mendukung peningkatan waktu di luar ruangan sebagai strategi berbasis bukti untuk menunda onset miopia.
2. Berikan Istirahat Saat Aktivitas Jarak Dekat
Saat membaca, belajar, atau menggunakan perangkat digital, berikan jeda secara berkala.
Anak tidak perlu dilarang membaca atau menggunakan perangkat digital sepenuhnya. Yang lebih penting adalah mengatur durasi aktivitas jarak dekat, memberikan jeda, serta mempertahankan jarak melihat yang wajar.
3. Perhatikan Jarak Membaca
Hindari kebiasaan memegang buku atau perangkat terlalu dekat dengan mata.
International Myopia Institute melaporkan bahwa aktivitas membaca pada jarak yang sangat dekat dan dalam durasi terus-menerus berkaitan dengan kemungkinan miopia yang lebih tinggi.
4. Pastikan Pencahayaan Memadai
Gunakan pencahayaan yang cukup ketika membaca atau belajar.
Pencahayaan yang baik membantu kenyamanan mata, meskipun pencahayaan semata-mata bukan pengganti pemeriksaan dan koreksi refraksi.
5. Gunakan Kacamata Sesuai Resep
Jika anak telah didiagnosis mengalami miopia, gunakan koreksi yang diresepkan oleh dokter.
Koreksi yang tepat penting untuk memastikan anak mendapatkan penglihatan yang jelas dan mendukung aktivitas sehari-hari. Dalam pengelolaan miopia, dokter dapat mempertimbangkan strategi khusus untuk memperlambat progresivitas pada anak tertentu.
Apakah Miopia Bisa Diperlambat?
Pada anak dan remaja tertentu, progresivitas miopia dapat diperlambat.
Selain meningkatkan aktivitas luar ruangan, dokter spesialis mata dapat mempertimbangkan intervensi pengendalian miopia tertentu berdasarkan usia, derajat miopia, progresivitas, dan kondisi mata.
Pilihan dapat mencakup:
• Kacamata khusus pengendalian miopia
• Lensa kontak khusus
• Orthokeratology
• Atropin dosis rendah pada kondisi tertentu
Pemilihan terapi harus dilakukan oleh dokter karena setiap metode memiliki indikasi, manfaat, keterbatasan, dan kebutuhan pemantauan yang berbeda.
Jangan menggunakan obat tetes mata untuk mengontrol miopia tanpa pemeriksaan dan resep dokter.
Tips Menjaga Kesehatan Mata di Era Digital
Untuk menjaga kenyamanan dan kesehatan mata, terutama pada anak dan pekerja yang banyak melakukan aktivitas visual, terapkan kebiasaan berikut:
✔ Batasi aktivitas jarak dekat yang dilakukan terus-menerus tanpa jeda.
✔ Berikan waktu untuk beraktivitas di luar ruangan setiap hari.
✔ Pertahankan jarak membaca yang nyaman.
✔ Gunakan pencahayaan yang memadai.
✔ Jangan menggunakan kacamata dengan ukuran yang tidak sesuai.
✔ Lakukan pemeriksaan mata apabila muncul keluhan penglihatan.
✔ Pada anak, lakukan pemeriksaan mata bila terdapat tanda gangguan penglihatan.
✔ Jika sudah menggunakan kacamata atau terapi pengendalian miopia, lakukan kontrol sesuai jadwal dokter.
Kapan Harus Memeriksakan Mata?
Segera lakukan pemeriksaan apabila mengalami:
• Penglihatan semakin buram
• Sering sakit kepala ketika membaca
• Mata cepat lelah
• Sulit melihat tulisan dari jauh
• Anak sering menyipitkan mata
• Anak sering mendekati layar atau buku
• Ukuran kacamata terasa tidak lagi sesuai
• Penglihatan tiba-tiba berubah
Gangguan penglihatan yang muncul secara tiba-tiba, terutama bila disertai nyeri mata, kilatan cahaya, terasa seperti ada tirai menutupi penglihatan, memerlukan pemeriksaan medis segera.
Layanan Kesehatan Mata di RSU Budi Kemuliaan
RSU Budi Kemuliaan berkomitmen memberikan pelayanan kesehatan mata yang mendukung deteksi dini dan penanganan gangguan penglihatan.
Pemeriksaan mata penting dilakukan untuk mengetahui penyebab penglihatan buram dan menentukan koreksi yang sesuai.
Jangan menunggu sampai gangguan penglihatan mengganggu aktivitas belajar, bekerja, maupun kehidupan sehari-hari.
Mata sehat membantu kita belajar, bekerja, beraktivitas, dan menikmati kehidupan dengan lebih optimal.
Kesimpulan
Gangguan refraksi adalah masalah penglihatan yang sangat umum, tetapi bukan berarti harus dibiarkan.
Miopia menyebabkan penglihatan jauh buram, hipermetropia dapat menyebabkan gangguan fokus terutama pada jarak dekat, astigmatisme menyebabkan penglihatan buram atau terdistorsi, sedangkan presbiopia merupakan perubahan kemampuan melihat dekat yang berkaitan dengan usia.
Sebagian besar gangguan refraksi dapat dikoreksi secara efektif menggunakan kacamata atau lensa kontak, sementara tindakan bedah refraktif dapat menjadi pilihan bagi pasien tertentu setelah melalui pemeriksaan dan evaluasi dokter.
Tidak semua kelainan refraksi dapat dicegah. Namun, khususnya pada anak, meningkatkan aktivitas di luar ruangan, memberikan jeda dari aktivitas jarak dekat, dan melakukan pemeriksaan mata secara berkala merupakan langkah penting untuk membantu menjaga kesehatan penglihatan dan mengurangi risiko miopia.
Jangan abaikan penglihatan buram. Kenali sejak dini, periksa secara tepat, dan jaga kesehatan mata sejak sekarang.
Sumber
1. World Health Organization (WHO). Eye care, vision impairment and blindness: Refractive errors. https://www.who.int/news-room/questions-and-answers/item/blindness-and-vision-impairment-refractive-errors
2. Gifford KL, Richdale K, Kang P, Aller TA, Lam CS, Liu YM, Michaud L, Mulder J, Orr JB, Rose KA, Saunders KJ, Seidel D, Tideman JWL, Sankaridurg P. IMI - Clinical Management Guidelines Report. Invest Ophthalmol Vis Sci. 2019 Feb 28;60(3):M184-M203. doi: 10.1167/iovs.18-25977. PMID: 30817832.
Reviews
Semua Reviews