
29 Oktober 2026

Gangguan Refraksi: Kenali Jenis, Gejala, dan Cara Menjaga Kesehatan Mata
Penglihatan Buram? Bisa Jadi Gangguan Refraksi
Pernah merasa pandangan jauh terlihat buram, sulit membaca tulisan kecil, atau harus menyipitkan mata agar dapat melihat dengan lebih jelas?
Keluhan tersebut dapat disebabkan oleh gangguan refraksi, salah satu masalah mata yang sangat umum terjadi pada anak maupun orang dewasa.
Gangguan refraksi terjadi ketika bentuk atau panjang bola mata menyebabkan cahaya tidak dapat difokuskan dengan tepat pada retina. Akibatnya, objek yang dilihat menjadi tidak fokus atau tampak buram.
Gangguan refraksi dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, proses belajar anak, pekerjaan, hingga kualitas hidup apabila tidak dikoreksi dengan baik.
Kabar baiknya, gangguan refraksi umumnya dapat dikoreksi secara efektif dengan kacamata, lensa kontak, dan pada orang tertentu dapat dipertimbangkan tindakan bedah refraktif.
Lalu, apa saja jenis gangguan refraksi? Apa penyebabnya? Apakah gangguan refraksi dapat dicegah?
Simak penjelasan berikut.
Apa Itu Gangguan Refraksi?
Gangguan refraksi (refractive error) adalah kondisi ketika cahaya yang masuk ke mata tidak difokuskan secara tepat pada retina sehingga menyebabkan penglihatan menjadi buram.
Secara normal, kornea dan lensa mata membiaskan cahaya sehingga bayangan dapat difokuskan pada retina.
Pada gangguan refraksi, bentuk atau panjang bola mata menyebabkan titik fokus cahaya tidak berada pada posisi yang seharusnya.
WHO menyebutkan gangguan refraksi sebagai salah satu penyebab utama gangguan penglihatan di dunia. Gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi yang tidak dikoreksi sebenarnya dapat diperbaiki dengan intervensi yang relatif sederhana, terutama penggunaan kacamata sesuai resep.
Jenis-Jenis Gangguan Refraksi
Secara umum terdapat empat jenis gangguan refraksi yang paling sering ditemukan:
1. Miopia (Rabun Jauh)
Miopia adalah kondisi ketika seseorang dapat melihat objek dekat dengan lebih jelas, tetapi mengalami kesulitan melihat objek yang jauh.
Contohnya:
• Tulisan di papan sekolah terlihat buram
• Sulit melihat rambu lalu lintas dari jauh
• Harus mendekati objek agar terlihat jelas
• Sering menyipitkan mata ketika melihat jauh
Miopia dapat mulai muncul pada masa kanak-kanak dan remaja.
Pada sebagian anak, miopia dapat bertambah berat seiring pertumbuhan bola mata. Miopia tinggi dapat meningkatkan risiko komplikasi mata di kemudian hari.
2. Hipermetropia (Rabun Dekat)
Hipermetropia terjadi ketika mata mengalami kesulitan memfokuskan objek, terutama pada jarak dekat.
Keluhan dapat berupa:
• Kesulitan membaca
• Mata cepat lelah
• Sakit kepala setelah membaca
• Penglihatan dekat buram
• Mata terasa tidak nyaman saat melakukan pekerjaan jarak dekat
Namun, gejalanya dapat berbeda tergantung derajat hipermetropia dan kemampuan akomodasi mata.
3. Astigmatisme (Mata Silinder)
Astigmatisme terjadi ketika permukaan kornea atau lensa memiliki kelengkungan yang tidak merata sehingga cahaya tidak difokuskan pada satu titik dengan sempurna.
Akibatnya, penglihatan dapat terasa:
• Buram
• Tidak tajam
• Distorsi
• Sulit melihat detail
• Mata cepat lelah
• Sakit kepala, terutama setelah aktivitas visual
Astigmatisme dapat terjadi bersamaan dengan miopia atau hipermetropia.
4. Presbiopia (Mata Tua)
Presbiopia merupakan gangguan penglihatan dekat yang berkaitan dengan proses penuaan.
Seiring bertambahnya usia, kemampuan lensa mata untuk mengubah fokus terhadap objek dekat berkurang.
Keluhan biasanya mulai terasa setelah usia sekitar 40 tahun dan dapat berupa:
• Sulit membaca tulisan kecil
• Harus menjauhkan buku atau ponsel agar tulisan terlihat
• Membutuhkan pencahayaan lebih terang saat membaca
• Mata cepat lelah ketika membaca
• Sakit kepala setelah melakukan pekerjaan jarak dekat
Presbiopia merupakan bagian alami dari proses penuaan dan pada akhirnya terjadi hampir pada semua orang.
Apa Penyebab Gangguan Refraksi?
Penyebab gangguan refraksi dapat berbeda-beda.
Beberapa faktor yang berperan antara lain:
Bentuk dan Panjang Bola Mata
Perubahan panjang bola mata dapat menyebabkan titik fokus cahaya bergeser dari retina.
Bentuk Kornea
Kelainan atau ketidakteraturan bentuk kornea dapat menyebabkan astigmatisme.
Perubahan Lensa Mata
Perubahan kemampuan lensa untuk memfokuskan objek dekat berperan pada terjadinya presbiopia.
Faktor Genetik
Riwayat keluarga, khususnya pada miopia, dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami gangguan refraksi.
Faktor Lingkungan
Pada miopia anak, faktor lingkungan juga berperan. Waktu yang lebih sedikit di luar ruangan dan pola aktivitas visual jarak dekat tertentu berkaitan dengan peningkatan risiko miopia.
Apakah Terlalu Sering Menggunakan Gadget Menyebabkan Mata Minus?
Penggunaan perangkat digital sering dikaitkan dengan meningkatnya keluhan mata pada anak.
Namun, penting membedakan antara mata lelah akibat penggunaan layar dan miopia.
Paparan perangkat digital dapat membuat mata terasa lelah, kering, atau tidak nyaman, terutama bila digunakan dalam waktu lama tanpa istirahat.
Sementara itu, hubungan langsung antara penggunaan perangkat elektronik dan perkembangan miopia masih terus diteliti. International Myopia Institute menyatakan bahwa bukti mengenai dampak penggunaan perangkat elektronik secara spesifik terhadap perkembangan dan progresivitas miopia masih belum konklusif.
Karena itu, yang lebih penting adalah menerapkan kebiasaan visual yang sehat, termasuk memberikan waktu istirahat dari aktivitas jarak dekat dan memastikan anak mendapatkan cukup aktivitas di luar ruangan.
Apa Saja Gejala Gangguan Refraksi?
Gangguan refraksi dapat menyebabkan:
• Penglihatan jauh buram
• Penglihatan dekat buram
• Mata cepat lelah
• Sakit kepala
• Sering menyipitkan mata
• Kesulitan membaca
• Sulit melihat tulisan di papan
• Kesulitan melihat detail dari kejauhan
• Kesulitan fokus ketika berpindah antara jarak dekat dan jauh
• Anak sering mendekatkan buku atau layar ke wajah
Pada anak-anak, gangguan refraksi terkadang tidak disadari karena mereka menganggap penglihatan yang buram sebagai kondisi normal.
Karena itu, pemeriksaan mata secara berkala sangat penting.
Gangguan Refraksi pada Anak
Gangguan refraksi yang tidak dikoreksi pada anak dapat mengganggu proses belajar dan perkembangan kemampuan visual.
Anak dengan gangguan penglihatan dapat:
• Kesulitan melihat tulisan di papan
• Tidak nyaman membaca
• Cepat kehilangan konsentrasi saat belajar
• Menghindari aktivitas tertentu
• Mendekatkan buku atau layar ke wajah
WHO merekomendasikan deteksi gangguan refraksi pada anak untuk mencegah dampak terhadap fungsi penglihatan dan proses pendidikan.
Orang tua sebaiknya memperhatikan tanda-tanda seperti:
• Anak sering menyipitkan mata
• Sering mengucek mata
• Duduk terlalu dekat dengan televisi
• Memegang buku terlalu dekat
• Sering mengeluh sakit kepala
• Kesulitan membaca tulisan di papan
• Prestasi belajar menurun tanpa sebab yang jelas
Bagaimana Gangguan Refraksi Didiagnosis?
Gangguan refraksi dapat diketahui melalui pemeriksaan mata oleh tenaga kesehatan mata.
Pemeriksaan dapat mencakup:
Pemeriksaan Ketajaman Penglihatan
Digunakan untuk mengetahui seberapa jelas seseorang dapat melihat pada jarak tertentu.
Pemeriksaan Refraksi
Dilakukan untuk menentukan ukuran lensa yang diperlukan agar penglihatan menjadi lebih jelas.
Pemeriksaan Mata Menyeluruh
Dokter dapat melakukan pemeriksaan bagian mata lainnya untuk memastikan tidak terdapat penyakit mata lain yang menyebabkan gangguan penglihatan.
Pada anak tertentu, dokter dapat melakukan pemeriksaan refraksi dengan metode khusus, termasuk setelah pemberian obat tetes untuk mengurangi kemampuan akomodasi bila diperlukan.
Bagaimana Cara Mengatasi Gangguan Refraksi?
1. Kacamata
Kacamata merupakan salah satu cara paling sederhana dan paling banyak digunakan untuk mengoreksi gangguan refraksi.
Kacamata bekerja dengan mengarahkan kembali cahaya agar dapat difokuskan dengan lebih tepat pada retina.
WHO menyebutkan kacamata sebagai intervensi yang umum, non-invasif, dan efektif untuk mengatasi gangguan refraksi.
2. Lensa Kontak
Lensa kontak dapat menjadi alternatif bagi sebagian pasien.
Namun, penggunaannya membutuhkan kebersihan dan perawatan yang baik untuk mencegah infeksi mata.
Pengguna lensa kontak harus:
• Mencuci tangan sebelum memasang atau melepas lensa
• Mengikuti jadwal penggantian lensa
• Tidak menggunakan air untuk membersihkan lensa
• Tidak tidur dengan lensa kecuali memang direkomendasikan dokter
• Mengikuti petunjuk perawatan lensa
3. Bedah Refraktif
Pada pasien tertentu, tindakan bedah refraktif dapat menjadi pilihan untuk mengoreksi kelainan refraksi.
Contohnya adalah prosedur berbasis laser seperti LASIK, PRK, atau prosedur lain sesuai indikasi.
Tidak semua orang merupakan kandidat untuk operasi refraktif.
Pemeriksaan dan evaluasi menyeluruh oleh dokter spesialis mata diperlukan sebelum menentukan apakah tindakan tersebut sesuai.
Apakah Gangguan Refraksi Bisa Dicegah?
Ini merupakan hal penting yang perlu dipahami.
Tidak semua gangguan refraksi dapat dicegah.
Menurut WHO, presbiopia, hipermetropia, dan astigmatisme tidak dapat dicegah secara pasti. Namun, pada anak, terdapat strategi yang dapat membantu menunda munculnya miopia dan memperlambat perkembangannya.
Karena itu, fokus pencegahan terutama ditujukan pada miopia pada anak dan remaja.
Cara Membantu Mencegah dan Memperlambat Miopia pada Anak
1. Perbanyak Aktivitas di Luar Ruangan
Anak dianjurkan memiliki cukup waktu untuk beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.
WHO merekomendasikan setidaknya sekitar 90 menit aktivitas di luar ruangan pada siang hari sebagai salah satu strategi yang dapat membantu menunda onset dan memperlambat progresivitas miopia pada anak.
International Myopia Institute pada rekomendasi terbarunya juga mendukung peningkatan waktu di luar ruangan sebagai strategi berbasis bukti untuk menunda onset miopia.
2. Berikan Istirahat Saat Aktivitas Jarak Dekat
Saat membaca, belajar, atau menggunakan perangkat digital, berikan jeda secara berkala.
Anak tidak perlu dilarang membaca atau menggunakan perangkat digital sepenuhnya. Yang lebih penting adalah mengatur durasi aktivitas jarak dekat, memberikan jeda, serta mempertahankan jarak melihat yang wajar.
3. Perhatikan Jarak Membaca
Hindari kebiasaan memegang buku atau perangkat terlalu dekat dengan mata.
International Myopia Institute melaporkan bahwa aktivitas membaca pada jarak yang sangat dekat dan dalam durasi terus-menerus berkaitan dengan kemungkinan miopia yang lebih tinggi.
4. Pastikan Pencahayaan Memadai
Gunakan pencahayaan yang cukup ketika membaca atau belajar.
Pencahayaan yang baik membantu kenyamanan mata, meskipun pencahayaan semata-mata bukan pengganti pemeriksaan dan koreksi refraksi.
5. Gunakan Kacamata Sesuai Resep
Jika anak telah didiagnosis mengalami miopia, gunakan koreksi yang diresepkan oleh dokter.
Koreksi yang tepat penting untuk memastikan anak mendapatkan penglihatan yang jelas dan mendukung aktivitas sehari-hari. Dalam pengelolaan miopia, dokter dapat mempertimbangkan strategi khusus untuk memperlambat progresivitas pada anak tertentu.
Apakah Miopia Bisa Diperlambat?
Pada anak dan remaja tertentu, progresivitas miopia dapat diperlambat.
Selain meningkatkan aktivitas luar ruangan, dokter spesialis mata dapat mempertimbangkan intervensi pengendalian miopia tertentu berdasarkan usia, derajat miopia, progresivitas, dan kondisi mata.
Pilihan dapat mencakup:
• Kacamata khusus pengendalian miopia
• Lensa kontak khusus
• Orthokeratology
• Atropin dosis rendah pada kondisi tertentu
Pemilihan terapi harus dilakukan oleh dokter karena setiap metode memiliki indikasi, manfaat, keterbatasan, dan kebutuhan pemantauan yang berbeda.
Jangan menggunakan obat tetes mata untuk mengontrol miopia tanpa pemeriksaan dan resep dokter.
Tips Menjaga Kesehatan Mata di Era Digital
Untuk menjaga kenyamanan dan kesehatan mata, terutama pada anak dan pekerja yang banyak melakukan aktivitas visual, terapkan kebiasaan berikut:
✔ Batasi aktivitas jarak dekat yang dilakukan terus-menerus tanpa jeda.
✔ Berikan waktu untuk beraktivitas di luar ruangan setiap hari.
✔ Pertahankan jarak membaca yang nyaman.
✔ Gunakan pencahayaan yang memadai.
✔ Jangan menggunakan kacamata dengan ukuran yang tidak sesuai.
✔ Lakukan pemeriksaan mata apabila muncul keluhan penglihatan.
✔ Pada anak, lakukan pemeriksaan mata bila terdapat tanda gangguan penglihatan.
✔ Jika sudah menggunakan kacamata atau terapi pengendalian miopia, lakukan kontrol sesuai jadwal dokter.
Kapan Harus Memeriksakan Mata?
Segera lakukan pemeriksaan apabila mengalami:
• Penglihatan semakin buram
• Sering sakit kepala ketika membaca
• Mata cepat lelah
• Sulit melihat tulisan dari jauh
• Anak sering menyipitkan mata
• Anak sering mendekati layar atau buku
• Ukuran kacamata terasa tidak lagi sesuai
• Penglihatan tiba-tiba berubah
Gangguan penglihatan yang muncul secara tiba-tiba, terutama bila disertai nyeri mata, kilatan cahaya, terasa seperti ada tirai menutupi penglihatan, memerlukan pemeriksaan medis segera.
Layanan Kesehatan Mata di RSU Budi Kemuliaan
RSU Budi Kemuliaan berkomitmen memberikan pelayanan kesehatan mata yang mendukung deteksi dini dan penanganan gangguan penglihatan.
Pemeriksaan mata penting dilakukan untuk mengetahui penyebab penglihatan buram dan menentukan koreksi yang sesuai.
Jangan menunggu sampai gangguan penglihatan mengganggu aktivitas belajar, bekerja, maupun kehidupan sehari-hari.
Mata sehat membantu kita belajar, bekerja, beraktivitas, dan menikmati kehidupan dengan lebih optimal.
Kesimpulan
Gangguan refraksi adalah masalah penglihatan yang sangat umum, tetapi bukan berarti harus dibiarkan.
Miopia menyebabkan penglihatan jauh buram, hipermetropia dapat menyebabkan gangguan fokus terutama pada jarak dekat, astigmatisme menyebabkan penglihatan buram atau terdistorsi, sedangkan presbiopia merupakan perubahan kemampuan melihat dekat yang berkaitan dengan usia.
Sebagian besar gangguan refraksi dapat dikoreksi secara efektif menggunakan kacamata atau lensa kontak, sementara tindakan bedah refraktif dapat menjadi pilihan bagi pasien tertentu setelah melalui pemeriksaan dan evaluasi dokter.
Tidak semua kelainan refraksi dapat dicegah. Namun, khususnya pada anak, meningkatkan aktivitas di luar ruangan, memberikan jeda dari aktivitas jarak dekat, dan melakukan pemeriksaan mata secara berkala merupakan langkah penting untuk membantu menjaga kesehatan penglihatan dan mengurangi risiko miopia.
Jangan abaikan penglihatan buram. Kenali sejak dini, periksa secara tepat, dan jaga kesehatan mata sejak sekarang.
Sumber
1. World Health Organization (WHO). Eye care, vision impairment and blindness: Refractive errors. https://www.who.int/news-room/questions-and-answers/item/blindness-and-vision-impairment-refractive-errors
2. Gifford KL, Richdale K, Kang P, Aller TA, Lam CS, Liu YM, Michaud L, Mulder J, Orr JB, Rose KA, Saunders KJ, Seidel D, Tideman JWL, Sankaridurg P. IMI - Clinical Management Guidelines Report. Invest Ophthalmol Vis Sci. 2019 Feb 28;60(3):M184-M203. doi: 10.1167/iovs.18-25977. PMID: 30817832.
Berita Terbaru