MENGAPA KITA PERLU DI VAKSIN COVID-19 ?

 

 Apa itu Vaksin?

 Pada tahun 1796, E. Jenner seorang Dokter berkebangsaan Inggris telah menemukan Vaksin. Saat itu sedang terjadi wabah cacar air yang banyak memakan korban serta memberikan gejala sisa bagi mereka yang selamat yaitu kebutaan. Sehingga terkena cacar air menjadi hal yang menakutkan bagi masyarakat dunia kala itu. E. Jener kemudian berhasil melakukan inokulasi bahan yang didapatkan dari nanah cowpox (cacar sapi) kepada pasien untuk mencegah cacar air (smalpox) yang disebabkan oleh virus. Ia melakukan percobaan dengan menyuntikan nanah cacar sapi melalui luka baru dengan cara menggoreskannya pada kulit. Pemikiran E. Jenner menjadi cikal bakal penemuan vaksin cacar sehingga pada tahun 1979 dunia telah menyatakan bebas cacar. Hal ini menjadi tonggak sejarah atas keberhasilan vaksin dalam mengendalikan penyakit menular yang mengancam kesehatan masyarakat dunia. Berdasarkan pengalaman tersebut WHO meluncurkan program pengembangan imunisasi bertujuan menjamin agar semua anak-anak menerima vaksin untuk melindungi mereka dari enam penyakit pada anak yaitu : tuberkulosis, polio, difteri, pertusis, tetanus dan campak yang diberikan sebelum usia 1 tahun.

Sejarah Vaksin di Indonesia

Indonesia mempunyai sejarah panjang dalam upaya penanggulangan penyakit menular dengan vaksinasi. Pertama dengan imunisasi cacar (1956); imunisasi campak (1963); dengan selang waktu yang cukup jauh mulai melakukan imunisasi BCG untuk tuberculosis (1973); disusul imunisasi tetanus toxoid pada ibu hamil (1974); imunisasi difteri, pertusis, tetanus (DPT) pada bayi (1976); lalu polio (1981); campak (1882); dan hepatitis B (1997); hingga inisiasi imunisasi Haemophilus Influenza tipe B dalam bentuk vaksin pentavalen. Sampai saat sekarang, pemerintah memiliki program imunisasi rutin lengkap yang terdiri dari imunisasi dasar dan lanjutan untuk melindungi anak dari penyakit infeksi.

 Imunisasi Dasar Lengkap:

Bayi berusia kurang dari 24 jam diberikan imunisasi Hepatitis B (HB-0), usia 1 bulan imunisasi (BCG dan Polio 1), usia 2 bulan imunisasi (DPT- HB-Hib 1 dan Polio 2). Lalu, usia 3 bulan imunisasi (DPT-HB-Hib 2 dan Polio 3), usia 4 bulan imunisasi (DPT-HB-Hib 3, Polio 4 dan IPV atau Polio suntik), dan usia 9 bulan imunisasi (Campak atau MR).

 Imunisasi Lanjutan:

Bayi bawah dua tahun (baduta) usia 18 bulan diberikan imunisasi (DPT-HB-Hib dan Campak/MR), kelas 1 SD/madrasah/sederajat imunisasi (DT dan Campak/MR), kelas 2 dan 5 SD/madrasah/sederajat imunisasi (Td). Bahkan Pemerintah tidak mewajibkan beberapa vaksin tetapi masuk dalam rekomendasi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia ) untuk diberikan pada anak usia 0-18 tahun seperti imunisasi rotavirus untuk mencegah diare pada anak, vaskin pneumokokus (atau PCV: Pneumococcal Conjugate Vaccine) yang bertujuan mencegah penyakit akibat kuman pneumokokus dengan jadwal 2,4,6 bulan, juga vaksin influenza mulai dari  usia 6 bulan.

Peranan Vaksin di Indonesia

Pada Tahun 2017 Indonesia pernah mengalami Kejadian Luar Biasa ( KLB) karena meningkatnya kasus Difteri yang dilaporkan di lebih dari sebagian provinsi di Indonesia pada berbagai range usia, sebagian besar pada anak-anak. Pemerintah segera melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) dan outbreak response immunization (ORI). Saat itu Pemerintah melakukan pemberian vaksin kepada anak berusia 1 tahun hingga kurang dari 19 tahun sebanyak 3 kali untuk membentuk kekebalan tubuh dari bakteri corynebacterium diphteriae yang menyebabkan Penyakit difteri.

Manfaat Vaksin bagi tubuh

Vaksin telah menyelamatkan jutaan nyawa setiap tahun. Vaksin bekerja dengan melatih dan mempersiapkan pertahanan alami tubuh dan merangsang pembentukan kekebalan tubuh secara spesifik terhadap bakteri/virus penyebab penyakit tertentu dan tubuh akan mengingat virus atau bakteri pembawa penyakit, mengenali dan tahu cara melawannya. Setelah vaksinasi, jika nanti tubuh terpapar kuman penyebab penyakit tersebut, maka tubuh segera siap memusnahkannya dan mencegah timbulnya penyakit. Apabila cakupan vaksinasi tinggi dan merata di suatu daerah maka akan terbentuk kekebalan kelompok (herd immunity). Kekebalan kelompok inilah yang menyebabkan proteksi silang, dimana anak tetap sehat meskipun tidak melakukan imunisasi karena anak- anak lainnya di lingkungan tempat tinggalnya sudah mendapatkan imunisasi secara lengkap, sehingga anak yang tidak melakukan imunisasi ini mendapatkan manfaat perlindungan melalui kekebalan kelompok yang ditimbulkan dari cakupan imunisasi yang tinggi tadi. Anak yang tidak melakukan imunisasi tersebut dilindungi oleh orang- orang di sekitarnya yang telah kebal terhadap penyakit tertentu sehingga risiko tertular penyakit dari orang sekitarnya menjadi kecil. Hal ini menunjukan bahwa imunisasi dengan cakupan yang tinggi dan merata sangatlah penting.

Perlunya Vaksin Covid-19

Saat ini kita mengharapkan dengan pemberian Vaksin Covid-19 yang sedang dilaksanakan di Indonesia, menjadikan pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 sebagai bagian dari strategi penanggulangan pandemi          COVID-19. Vaksin yang akan digunakan di masyarakat untuk penanggulangan pandemi Covid-19 telah melalui tahapan pengembangan dan serangkaian uji yang ketat, sehingga terjamin kualitas, keamanan dan efektifitasnya di bawah pengawasan BPOM serta memenuhi standar internasional. Vaksin COVID-19 mengandung bahan virus yang sudah dimatikan (atau inactivated virus) dan tidak mengandung sama sekali virus hidup atau yang dilemahkan. Ini merupakan metode paling umum dalam pembuatan vaksin dan Komisi Fatwa MUI Pusat telah menyatakan kehalalannya.

Pemberian vaksin akan diberikan secara bertahap dengan mempertimbangkan ketersediaan, waktu kedatangan. Di Indonesia, tahap I pemberian vaksin pelaksanaanya pada tanggal 14 Januari 2021 yang diberikan kepada tenaga kesehatan sebagai garda terdepan penanggulangan Covid-19 dan tahap kedua telah dilakukan pada tanggal 17 Februari 2021 pada kelompok prioritas yang memiliki interaksi dan mobilitas tinggi sehingga rentan terpapar virus seperti petugas publik dan lansia.

Oleh karena itu, selama belum ada obat yang defenitif untuk COVID-19, maka vaksin COVID-19 yang aman dan efektif serta perilaku 3M (memakasi masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak) adalah upaya perlindungan yang bisa kita lakukan agar terhindar dari penyakit COVID-19.https://rsbudikemuliaan.id/informasi-kesehatan/pencegahan-penyakit-covid-19/

https://www.instagram.com/p/CLovtlOD5nd/

Sumber: Kemenkes, WHO

 

Write a comment:

Tinggalkan Balasan

Untuk kasus darurat hubungi (021) 384-2828