CEGAH KEBUTAAN PADA BAYI PREMATUR

Lakukan Skrining Retinopathy of Prematurity (ROP)

 

  Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, bayi prematur adalah apabila bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu. Masalah utama dari kelahiran yang belum pada waktunya adalah belum matang atau imaturitasnya dari seluruh sistem organ tubuhnya. Kemajuan teknologi kedokteran memungkinkan bayi prematur dengan berat bayi lahir rendah dan usia kehamilan yang sangat muda dapat hidup, namun bayi prematur rentan terhadap penyakit. Oleh karena itu , memberikan pemantauan khusus pada bayi prematur setelah keluar dari rumah sakit agar proses tumbuh kembangnya tetap berjalan.

Salah satu pemantauan untuk bayi prematur adalah harus melakukan skrining Retinopathy of Prematurity (ROP). ROP merupakan gangguan mata penyebabnya adalah pembuluh darah di retina tidak berjalan dengan sempurna sehinggan menjadi salah satu penyebab kebutaan bayi dan anak di dunia, termasuk Indonesia.

Apa yang terjadi pada ROP?

Retina adalah lapisan dalam mata yang menerima cahaya dan mengubahnya menjadi pesan visual yang dikirimkan ke otak. Saat bayi lahir prematur, pembuluh darah retina bisa berkembang tidak normal dan menyebar ke seluruh retina.  Pembuluh darah abnormal ini rapuh dan dapat bocor, melukai retina dan menariknya keluar dari posisi seharusnya. Hal ini menyebabkan ablasi retina atau lepasnya retina yang ada pada mata. Ablasi retina adalah penyebab utama gangguan penglihatan dan kebutaan pada ROP.

Mata mulai berkembang sekitar usia kehamilan 16 minggu ketika pembuluh darah retina mulai terbentuk di saraf optik di bagian belakang mata. Pembuluh darah tumbuh secara bertahap menuju tepi retina yang sedang berkembang untuk memasok oksigen dan nutrisi. Selama 12 minggu terakhir kehamilan, mata berkembang pesat. Ketika bayi lahir cukup bulan, pertumbuhan pembuluh darah retina sebagian besar sempurna (retina biasanya selesai tumbuh beberapa minggu sampai satu bulan setelah lahir). Tetapi jika bayi lahir prematur, sebelum pembuluh darah ini mencapai tepi retina, pertumbuhan pembuluh normal bisa berhenti. Tepi retina – pinggiran – mungkin tidak mendapatkan cukup oksigen dan nutrisi.

Para ilmuwan memperkirakan bahwa pinggiran retina kemudian mengirimkan sinyal ke area lain dari retina untuk makanan. Akibatnya, tumbuhlah pembuluh darah abnormal baru. Pembuluh darah baru ini rapuh dan lemah serta dapat berdarah dan menyebabkan jaringan parut pada retina. Ketika bekas luka ini menyusut, mereka menarik retina, menyebabkannya terlepas dari bagian belakang mata. Jika pusat retina atau seluruh retina terlepas, penglihatan sentral dapat terancam.

 

Apa yang menyebabkan terjadinya ROP ?

Sampai sekarang, penyebab pasti ROP belum diketahui namun beberapa sumber mempercayai ROP dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti usia kehamilan yang muda saat melahirkan dan berat badan lahir rendah, semakin kecil bayi saat lahir, semakin besar kemungkinan bayi mengembangkan ROP.  Kemudian, terjadinya sepsis, apnoe of prematurity ( lupa nafas), serta menduga terapi oksigen dengan konsentrasi tinggi menjadi faktor penyebab terjadinya ROP.

 

Apakah ROP Dapat Sembuh ?

Kebanyakan ROP mengalami perbaikan secara spontan tanpa menyebabkan kerusakan pada retina dan dapat melihat secara normal untuk usianya. Masalahnya, tidak ada yang bisa memprediksi bayi mana yang akan tumbuh dengan baik dan mana yang akan mengalami masalah. Oleh karena itu skrining yang efektif dan pengobatan tepat waktu adalah faktor terpenting dalam mencegah kehilangan penglihatan yang disebabkan oleh ROP.

 

Bayi yang bagaimanakah yang memerlukan Skrining ROP?

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia,Melakukan Skrining ROP pada:

  • Bayi baru lahir dengan berat ≤ 1500 gram atau masa kehamilan ≤ 34 minggu
  • Bayi risiko tinggi seperti mendapat fraksi oksigen (Fi O2) tinggi, transfusi berulang, kelainan Jantung bawaan, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, infeksi/sepsis, gangguan napas, asfiksia,perdarahan di otak (IVH), berat lahir ≤ 1500 gram, masa gestasi ≤ 34 minggu.

 

Kapan waktu yang baik untuk melakukan Skrining ROP ?

Melakukan pemeriksaaan ROP saat bayi masih menjalani perawatan di rumah sakit, namun bila bayi telah keluar rumah sakit,  pemeriksaan dapat dilakukan setelah rawat jalan. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, waktu pemeriksaan:

 

Bagaimana Skrining ROP ?

Dokter mata mendiagnosis ROP menggunakan alat yang dapat melihat kedalam mata setelah pupil dilatasi dengan tetes mata. Kemudian bila ditemukan ROP maka akan dijelaskan derajat keparahan ROP yang ditentukan oleh lokasinya di mata (zona), tingkat keparahan penyakit (stadium) dan penampilan pembuluh retinal (ditambah penyakit).

Pemeriksaan skrining ROP ini sangat penting karena penundaan pengobatan dapat meningkatkan risiko kehilangan penglihatan. Tidak hanya ROP, prematuritas juga dapat menyebabkan kelainan penglihatan lainnya. Pemeriksaan mata setelah keluar dari rumah sakit menjadi SANGAT PENTING. Prematuritas merupakan faktor risiko berkembangnya ambliopia (mata malas), ketidaksejajaran mata (strabismus), kebutuhan akan kacamata (bahkan pada usia muda), dan gangguan penglihatan kortikal. Oleh karena itu, setiap bayi prematur membutuhkan perhatian jangka panjang dari dokter mata.

baca juga artikel tentang katarak https://www.instagram.com/p/CMTml_kjqTD/

 

Write a comment:

Tinggalkan Balasan

Untuk kasus darurat hubungi (021) 384-2828