ATASI ANEMIA PADA REMAJA

Darah membentuk sekitar 8% berat tubuh total dan memiliki volume rata-rata 5 liter pada wanita dan 5,5 liter pada pria. Darah sendiri terdiri dari komponen-komponen darah yaitu sel darah putih ( leukosit), sel darah merah (eritrosit), keping darang (thrombosit), dan plasma darah. Pada sel darah merah terdapat hemoglobin . Hemoglobin adalah molekul protein di dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh dan mengangkut karbon dioksida dari seluruh jaringan tubuh kembali ke paru-paru.

Sumber : stylecraze.com

Masing-masing komponen darah memiliki jumlah normal dalam tubuh yang secara praktis dan untuk mengetahui dapat melalui pemeriksaan darah lengkap dengan mengambil sampel darah, umumnya dari pembuluh darah di lengan, untuk kemudian memeriksakanya di laboratorium .

Apa Itu Anemia?

Salah satu kondisi paling umum yang terjadi pada gangguan jumlah komponen darah adalah anemia. Anemia secara fungsional memiliki definisi sebagai penurunan jumlah massa sel darah merah yang diikuti oleh penurunan jumlah hemoglobin , sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen dalam jumlah yang cukup ke jaringan perifer (penurunan oxygen carrying capacity).  Kategori anemia pada wanita usia subur (15-49 tahun)  jika memiliki Hb <12 g/ dl.

Lebih dari 50% penyebab anemia yang paling banyak adalah kurangnya zat besi dalam tubuh atau dikenal dengan istilah Anemia Defisiensi Besi. Zat besi merupakan mikronutrien esensial yang dibutuhkan dalam berbagai proses metabolik seperti transport oksigen, sintesis DNA, sintesis neurotransmiter, metabolisme energi, pertumbuhan dan diferensiasi sel serta transport elektron . Selain menyebabkan anemia, kekurangan zat besi juga dapat mempengaruhi kecerdasan, persepsi indrawi, merusak kekebalan tubuh dan meningkatkan kerentanan individu terhadap infeksi . Secara khusus remaja putri yang mengalami anemia akan berdampak lebih serius, mengingat mereka adalah para calon ibu yang akan hamil dan melahirkan seorang bayi, sehingga memperbesar risiko kematian ibu melahirkan, bayi lahir prematur dan berat bayi lahir rendah (BBLR).

Berdasarkan data Riskesdas 2018 proporsi anemia pada kelompok umur 15-24 tahun sebesar 32% tahun 2018. Artinya antara 10 remaja ada 3-4 remaja yang menderita anemia. Adapun proporsi anemia pada perempuan (27,2%) lebih tinggi  daripada laki-laki (20,3%). Remaja putri rentan terkena anemia karena mengalami masa menstruasi dan mengejar masa tumbuh. Remaja putri yang sedang menstruasi mengalami kehilangan besi dua kali lipat daripada remaja putra. Selain itu, remaja putri biasanya sangat memperhatikan bentuk badan, sehingga banyak yang membatasi konsumsi makan seperti pada diet vegetarian.

Tanda dan Gejala Anemia Zat Besi

  • Mudah Lelah
  • Kulit Tampak Pucat
  • Mudah Sakit Kepala atau Pusing
  • Nafsu Makan Menurun
  • Detak Jantung Cepat
  • Sesak Nafar atau Nafas Pendek-pendek
  • Penurunan Kemampuan Belajar
  • Sulit Berkonsentrasi
  • Penurunan Kinerja Kognitif

Pencegahan dan Penanggulangan Anemia Zat Besi

  1. Meningkatkan konsumsi zat besi dari makanan

Meningkatkan konsumsi zat besi dari makanan. Mengkonsumsi pangan hewani dalam jumlah cukup. Sumber zat besi adalah makan hewani, seperti daging, ayam dan ikan. Sumber baik lainnya adalah telur, serealia tumbuk, kacang-kacangan, sayuran hijau dan beberapa jenis buah. Memakan makanan dengan kandung vitamin yang dapat meningkatkan penyerapan zat besi, seperti vitamin C. Makanan yang kaya akan vitamin C adalah brokoli, jeruk bali, kiwi, sayuran hijau, melon , jeruk, paprika, strowberi, jeruk keprok, tomat, dan lain-lain.  Peningkatan konsumsi vitamin C sebanyak 25, 50, 100 dan 250 mg dapat meningkatkan penyerapan zat besi sebesar 2, 3, 4 dan 5 kali.

  1. Dukung Remaja untuk Meningkatkan Pengetahuan mengenai Gizi

Pengetahuan yang baik akan membantu remaja untuk merubah perilaku dalam memilih asupan makanan yang bergisi dan seimbang serta menghindari diet ketat yang dapat membahayakan bagi pertumbuhan dan perkembangan.

  1. Suplement Zat Besi

Pemberian suplemen besi menguntungkan karena dapat memperbaiki status hemoglobin dalam relatif singkat. Namun, konsumsi suplemen zat besi memiliki efek Samping yaitu mual, ketidaknyamanan epigastrium, kejang perut, konstipasi dan diare. Memberikan efek ini tergantung dosisnya dan dapat diatasi dengan mengurangi dosis dan meminum tablet segera setelah makan atau bersamaan dengan makanan .

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Bila terdapat tanda dan gejala yang menunjukan anemia defisiensi zat besi, maka temui dokter Anda. Anemia Defisiensi tidak dapat didiagnosis dan diobati sendiri. Konsultasikan terlebih dahulu untuk mengkonsumsi suplemen zat besi karena mengkonsumsi zat besi yang berlebihan dapat merusak Hati atau menyebabkan komplikasi lainnya.

Baca juga https://www.instagram.com/p/CKkoE2UDKPI/

Write a comment:

Tinggalkan Balasan

Untuk kasus darurat hubungi (021) 384-2828